Wednesday, July 25, 2012
Seting Internet 3G Tablet Treq A10G Duo
Banjir tablet produk Cina yg di bandrol dengan merk Lokal memang sdg jadi trend di Indonesia saat ini.
Dengan fitur yg mendekati sama atau bahkan terkadang melebihi dengan Brand terkenal, mulai dari fasilitas 3G, layar capacitive, internal storage yg besar, RAM semakin besar, GPS, TV, on Call dan dukungan harga yg nyaris lebih murah 50%, siapa yg tdk mau?
Kali ini problem Setting Internet 3G Tablet Treq A10G Duo kembali menjadi isu. Solusinya sangat sederhana, ikut step step berikut;
1. Masuk di menu "System settings"
2. Masuk di sub menu "Wireless & Networks"
3. Pilih "more"
4. Klik "Mobile networks"
5. Pilih/centang "Data enabled"
6. Klik "Network operators", pilih sesuai kartu anda
7. Kemudian back, pilih "Access Point Names"
8. Klik menu utk "New APN"
9. Masukkan parameter sbb: (dalam kasus ini pakai operator Tri)
a. Name : .. Bebas
b. APN : 3data
c. Proxy : 10.4.0.10
d. Port : 3128
e. Username : 3data
f. password : 3data
g. Server biarkan kosong
h. MMSC biarkan kosong
i. MCC : 510
j. MNC : 89
k. Authentication type : "PAP or CHAP"
l. APN type : default,supl
m. APN protocol : IPv4
n. Bearer : Unspecified Setelah itu tekan menu dan save
Selamat mencoba, semoga berhasil. Silahkan kalau ada yg tdk jelas atau ada yg mau ditanyakan ... :)
Saturday, March 24, 2012
Overheat pada Honda Vario Techno PGM-FI 125 dan Solusinya
Pada kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman tentang Overheat yang terjadi pada Vario Techno
Pertama Problem overheat muncul
Pada saat pertama kali menaiki kendaraan ini terasa sangat mantap, dengan body yang sedemikian besar dan kokoh. Untuk mencobanya, penulis menaiki dengan membawa anak dan seorang pembonceng. Dengan beban yang kurang lebih mendekati 200Kg, mengendarai Vario ini terasa nyaman, jalanan yg tidak rata pun dapat dilibas dengan baik
Namun demikian, ketika perjalanan semakin jauh dan waktu tempuh semakin panjang, tiba tiba indikator overheat menyala. Tentu sangat mengherankan, bagaimana produk yg baru di launching dan baru saja dinaiki tiba tiba indikator overheat menyala?
Mensikapi kejadian ini penulis mencoba utk menghentikan kendaraan dan mendinginkan mesin selama kurang lebih 5 menit. Sambil menunggu, penulis mencoba utk melihat posisi air radiator pada tabung cadangan dan ternyata masih ada di level aman. Lalu kenapa overheat bisa terjadi?
Pada kesempatan itu penulis tidak ingin mencoba membuka radiator meskipun hal itu dimungkinkan, akan tetapi penulis lebih memilih untuk menunggu benar benar mesin dingin karena angin yang ada. Kalau penulis memaksa untuk membuka tutup radiator rawan terjadinya semburan dari cairan pendingin di radiator akibat tekanan panas.
Setelah didiamkan beberapa saat, motor dinyalakan kembali dan indikator overheat sudah tidak menyala. Solusi ini tentu sifatnya sementara karena sedang ada diperjalanan dengan sedikit peralatan pendukung.
Solusi Yang Penulis Coba saat ini
Tentu akan sangat tidak nyaman jika kita berkendara kemudian sebentar sebentar harus berhenti untuk mendinginkan mesin. Dalam hal ini penulis mencoba menggali lebih jauh, apa sebetulnya yang telah terjadi. Meskipun belum sepenuhnya terjawab, setidaknya penulis telah membuat sedikit rangkuman untuk menyelesaikan masalah ini.
Langkah langkah solusi overheat pada Vario Techno PGM-F1 125:
Kesimpulan sementara:
Mohon untuk diperhatikan,
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan membantu.
Tulisan ini bersifat pandangan pribadi dan berdasarkan atas pengalaman pribadi dengan tidak bermaksud utk mendeskreditkan produk tertentu.
UPDATE 28 Maret 2012
Pertama Problem overheat muncul
Pada saat pertama kali menaiki kendaraan ini terasa sangat mantap, dengan body yang sedemikian besar dan kokoh. Untuk mencobanya, penulis menaiki dengan membawa anak dan seorang pembonceng. Dengan beban yang kurang lebih mendekati 200Kg, mengendarai Vario ini terasa nyaman, jalanan yg tidak rata pun dapat dilibas dengan baik
Namun demikian, ketika perjalanan semakin jauh dan waktu tempuh semakin panjang, tiba tiba indikator overheat menyala. Tentu sangat mengherankan, bagaimana produk yg baru di launching dan baru saja dinaiki tiba tiba indikator overheat menyala?
Mensikapi kejadian ini penulis mencoba utk menghentikan kendaraan dan mendinginkan mesin selama kurang lebih 5 menit. Sambil menunggu, penulis mencoba utk melihat posisi air radiator pada tabung cadangan dan ternyata masih ada di level aman. Lalu kenapa overheat bisa terjadi?
Pada kesempatan itu penulis tidak ingin mencoba membuka radiator meskipun hal itu dimungkinkan, akan tetapi penulis lebih memilih untuk menunggu benar benar mesin dingin karena angin yang ada. Kalau penulis memaksa untuk membuka tutup radiator rawan terjadinya semburan dari cairan pendingin di radiator akibat tekanan panas.
Setelah didiamkan beberapa saat, motor dinyalakan kembali dan indikator overheat sudah tidak menyala. Solusi ini tentu sifatnya sementara karena sedang ada diperjalanan dengan sedikit peralatan pendukung.
Solusi Yang Penulis Coba saat ini
Tentu akan sangat tidak nyaman jika kita berkendara kemudian sebentar sebentar harus berhenti untuk mendinginkan mesin. Dalam hal ini penulis mencoba menggali lebih jauh, apa sebetulnya yang telah terjadi. Meskipun belum sepenuhnya terjawab, setidaknya penulis telah membuat sedikit rangkuman untuk menyelesaikan masalah ini.
Langkah langkah solusi overheat pada Vario Techno PGM-F1 125:
- Ketika mesin dalam kondisi dingin, buka baut penutup pada cover radiator (dilepas juga covernya).
- Membuka tutup radiator.
- Melihat didalam radiator seberapa banyak coolant radiator yang masih ada (dlm kasus saya, ternyata setelah di cek kondisinya kosong). Secara bersamaan, akan terjadi aliran coolant radiator yg berasal dari tabung cadangan yg akan masuk kedalam radiator (dlm kasus saya, tidak sampai membuat penuh di radiator).
- Menambahkan coolant radiator pada radiator sampai penuh (gunakan produk yg sama rekomendasi dari AHM "xxx"--> lupa saya merknya :).
- Menyalakan mesin dengan tidak menutup radiator. Ketika mesin menyala akan terjadi pengurangan pada coolant radiator, tambahkan lagi sehingga penuh. Lakukan hal ini selama 2 atau 3 kali dengan kondisi mesin dinyalakan dan dimatikan.
- Setelah coolant radiator penuh, pasang penutup radiator.
- Kemudian isi tabung cadangan dengan coolant radiator pada level aman.
- Jalankan mesin seperti biasa.
Kesimpulan sementara:
- Terjadi ketidak tepatan dalam proses pengisian coolant radiator sewaktu perakitan (ada SOP yg terlewat atau bisa jadi SOPnya tidak tepat).
- Melihat kondisi radiator yg kosong dan tabung cadangan masih ada, bisa disimpulkan teknisi mengisi coolant radiator hanya melalui tabung cadangan saja, sehingga coolant tidak sampai pada radiator. Lalu bagaimana solusinya .... ? ikuti solusi yang dtawarkan diatas utk melakukan pengisian ulang coolant radiator.
- Tidak mungkin terjadi overheat dlm jarak tempuh yg sangat pendek (kurang dari 20km) apabila ada cairan coolant di dalam radiator.
- Kesimpulan ini masih sangat bersifat sementara, sambil menguji apakah setelah radiator diisi penuh dengan coolant radiator tidak terjadi penyusutan yang berlebih.
Mohon untuk diperhatikan,
- Apabila lampu indikator overheat menyala, jangan dipaksakan untuk menjalankan kendaraaan. Kalau hal ini dipaksakan, bisa dipastikan akan terjadi masalah yg lebih parah (mesin akan melenting dll),
- Apabila terjadi bunyi seperti mengorok di radiator, coba pastikan langkan diatas untuk dicoba (1-8).
- Jika suara masih muncul juga, bisa dicoba untuk dilepas radiator dan kipas (bila ada). Jika suara hilang maka bisa dipastikan timbul karena gesekan kipas dengan radiator. Namun apa bila suara itu masih muncul, siap siap utk mengajukan klaim ... :)
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan membantu.
Tulisan ini bersifat pandangan pribadi dan berdasarkan atas pengalaman pribadi dengan tidak bermaksud utk mendeskreditkan produk tertentu.
UPDATE 28 Maret 2012
- Setelah 1 minggu dilakukan pengisian coolant radiator spt prosedure (1-8) diatas, sudah tidak muncul kembali overheat.
- Terjadi penyusutan coolant radiator sampai 1/4 atas upper level, akan tetapi sampai hari ini sdh tdk berkurang lagi (semoga seterusnya).
- Masalah overheat ini sdh saya sampaikan pada AHM dan mereka memberikan tanggapan bahwa ini diyakini adalah human error, dengan ausmsi/dalih ada gelembung udara yg terjebak pada saluran radiator.
Wednesday, March 14, 2012
Review Honda Vario Techno PGM-FI 125
Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai +/- 270 juta jiwa tentu merupakan pasar yang sangat potensial untuk memasarkan produk apapun. Dari produk dengan kualitas kelas wahid maupun sampai produk dengan kualitas kelas jangkrik. Hal ini disadari penuh oleh negara negara produsen di dunia, sehingga mereka selalu menggembar gemborkan pasar bebas, agar mereka bisa dengan bebas menjarah pasar di Indonesia.
Namun sayangnya, Indonesia sendiri sampai saat ini seolah tidak konsen dengan potensi pasar yg dimiliki. Banyak kebijakan yang dibuat oleh pemerintah(entah dalam tekanan atau tidak sadar) lebih banyak berpihak kepada asing agar menjarah pasar di negeri sendiri.
Hal ini semakin memperkokoh kemampuan kritis bangsa kita yang lebih banyak beradu pendapat di dunia maya dengan hanya terjebak pada level komentator. Termasuk apa yang akan dilakukan penulis saat ini terhadap produk "Honda Vario Techno PGM-FI 125" yg diproduksi oleh negeri matahari terbit.
Perkembangan skuter matic di Indonesia memang sangat pesat, dengan dibukanya kran import dari negara manapun menjadikan Indonesia sebagai sebuah laboratorium produsen untuk melepas produk mereka.
Peluncuran skuter matic dengan kapasitas 125cc bertepatan dengan 10 tahun peluncuran perdana sepeda motor bebek pada tahun 2002 dengan kapasiatas yang sama. Pada waktu itu Honda meluncurkan produk Karisma 125cc dengan varian tromol maupun disc brake.
Kesan pertama Honda Vario Techno PGM-FI 125 adalah skutermatic dengan penampilan yang futuristik, dengan desain yg menonjolkan garis garis tajam semakin memperkokoh kesan macho.
Menilik pada technology yg disematkan memang tidak main main, dengan menerapkan ACG Starter, era skutermatic dengan suara "cetlak" pada saat start engine akan berlalu. Kuncinya adalah membenamkan magnet pada dinamo starter langsung pada mesinnya.
Kelebihan
Start mesin yang sangat halus
Tarikan cukup responsih
Bagasi dan kapasitas bbm yg cukup besar
Feature utk keselamatan yang lumayan mendukung
Kekurangan
Fasilitas CBS yang sangat jauh terpaut harganya (+/-900rb) dgn versi standart, akan mubazir utk pengguna dalam kota yg sering macet, kecuali anda pengguna race ... :)
Body terlalu besar dan berat yang luar biasa, cocok untuk kaum Adam akan tetapi akan sangat kurang dimintai untuk kaum Hawa.
Suspensi masih terlalu keras kalau dipergunakan untuk perseorangan, namun cukup nyaman untuk berboncengan.
Indikator lampu sign menggunakan warna yg kurang cerah, sehingga kurang terlihat oleh pengendara sendiri pada siang hari.
NB: Nanti di edit lagi ya .... capek euy ... setelah lama ga pernah kontribusi lagi dalam blog ... :)
Sunday, October 3, 2010
Review W9700 Replika Blackberry Onyx 9700




Dengan banyak HP kelas wahid yg semakin digandrungi anak muda, maka tidak ketinggalan produsen produsen dari negeri tirai bambu melihat peluang ini dan dengan gencar membuat imitasinya. Ada banyak macam imitasi yg beredar dengan kulaitas yg beragam.
Pada kesempatan ini, saya menjajal Replika Blackberry Onyw 9700 yg terkenal dengan tipe W9700. Betul betul 1 to 1 copy, 99% physically mirip.
Kesan pertama : Benar benar mantab bodinya, ga ada bedanya dgn BB yg asli.
Menu : Standar HP buatan China, ditambah shortcut utk snaptu, opera dll
Trackpad bener bener sensitif, jgn lupa buang plastik cover di trackpad
Dual sim GSM yg dengan mudah mendeteksi operator
Kualitas audio yg lumayan ciamik, palagi kalau menggunakan headset. Ada fasilatas utk mengatur Equalizer dan Advanced Bass.
Kualitas dual camera depan belakang cukup standar utk HP Cina cukup VGA.
Kualitas tuner TV cukup sensitif, dpt menangkap banyak siaran.
Untuk menonton TV agar layar tdk terganggu dgn OSD panel, cukup tekan tombol A. Scan chanel dan autosave tekan tombol Q.
Kekuatan batery sdg dicoba, kayaknya kalau aktif ga kuat lama
Ya betul kalau kita aktif main Mp3 atau lihat tv, setengah hari juga btre lsg habis. Untuk standby normal bisa 2 hari. Batre Compatible dengan Nokia tipe BL-4U
Terdapat tanda CE, kalau betul berarti memenuhi standar untuk keselamatan, kesehatan dan ramah lingkungan sesuai standar Eropa .... :)
Sementara itu dulu ya :)
Spec :
- Dual GSM On
- TV
- Wi-Fi
- Dual camera depan belakang (CGA & QVGA)
- Menggunakan TRACKPAD
- Gprs
- Java
- Yahoo Messenger
- Opera Mini
- Ebuddy
- Bluetooth
- Radio
- menggunakan memory card micro sd
- DLL
Include:
- Box
- Baterai 2 Pcs
- HandsFree
- kabel data
- Charger
Saturday, June 19, 2010
Sustainable Competencies
Tuesday, April 6, 2010
Sample Progress Report
PROGRESS REPORT
“Stratigraphic Architecture of Deep-Ramp Carbonates: Implications for Deposition
of Volcanic Ashes, Salona and Coburn Formations, Central Pennsylvania”
by John Lerner
SCOPE AND PURPOSE
The Late Middle Ordovician-age Salona and Coburn formations of central Pennsylvania show cyclic patterns on a scale of tens of meters. Little research has been done on sequence stratigraphy of deep-water mixed carbonate/siliciclastic systems, and a depositional model for this environment is necessary to understand the timing and processes of deposition. The stratigraphic position of the bentonites at the base of the larger cycles is significant because it indicates that they accumulated during a time of non-deposition in a deep water environment.
PROGRESS
To date, I have described five lithofacies present in the Salona and Coburn formations. Two lithofacies are interpreted as storm deposits and make up the limestone component of the thinly-bedded couplets. Some trends were observed in the raw data; however, because of the “noisy” nature of the data, a plot of the five-point moving average of bed thickness was created to define the cycles better.
ADDITIONAL WORK
Two key tasks are to be completed in the coming weeks. With the results of these tests and the field observations, I will create a model for deposition of a deep-ramp mixed carbonate/siliciclastic system in a foreland basin environment. The model will include depositional processes, stratigraphic architecture, and tectonic setting.
REMAINING QUESTIONS
Questions remain regarding the depositional processes responsible for the featureless micrite at the base of the Salona Formation. How rapid was the transition? What record (if any?) remains of the transition? Were bentonites not deposited, or were they selectively removed at certain locations by erosive storm processes?
EXPECTED RESULTS
I expect to find that the large-scale cycles represent parasequences. Flooding surfaces are marked by bentonites and shales, with bentonites removed in some locations. If the cycles are true parasequences, the implication is that eustatic sea level changes and not tectonic influences controlled the depositional changes over the interval.
This page was downloaded from Style for Students Online, available at https://www.e-education.psu.edu/styleforstudents/
“Stratigraphic Architecture of Deep-Ramp Carbonates: Implications for Deposition
of Volcanic Ashes, Salona and Coburn Formations, Central Pennsylvania”
by John Lerner
SCOPE AND PURPOSE
The Late Middle Ordovician-age Salona and Coburn formations of central Pennsylvania show cyclic patterns on a scale of tens of meters. Little research has been done on sequence stratigraphy of deep-water mixed carbonate/siliciclastic systems, and a depositional model for this environment is necessary to understand the timing and processes of deposition. The stratigraphic position of the bentonites at the base of the larger cycles is significant because it indicates that they accumulated during a time of non-deposition in a deep water environment.
PROGRESS
To date, I have described five lithofacies present in the Salona and Coburn formations. Two lithofacies are interpreted as storm deposits and make up the limestone component of the thinly-bedded couplets. Some trends were observed in the raw data; however, because of the “noisy” nature of the data, a plot of the five-point moving average of bed thickness was created to define the cycles better.
ADDITIONAL WORK
Two key tasks are to be completed in the coming weeks. With the results of these tests and the field observations, I will create a model for deposition of a deep-ramp mixed carbonate/siliciclastic system in a foreland basin environment. The model will include depositional processes, stratigraphic architecture, and tectonic setting.
REMAINING QUESTIONS
Questions remain regarding the depositional processes responsible for the featureless micrite at the base of the Salona Formation. How rapid was the transition? What record (if any?) remains of the transition? Were bentonites not deposited, or were they selectively removed at certain locations by erosive storm processes?
EXPECTED RESULTS
I expect to find that the large-scale cycles represent parasequences. Flooding surfaces are marked by bentonites and shales, with bentonites removed in some locations. If the cycles are true parasequences, the implication is that eustatic sea level changes and not tectonic influences controlled the depositional changes over the interval.
This page was downloaded from Style for Students Online, available at https://www.e-education.psu.edu/styleforstudents/
Monday, January 25, 2010
Restart Page Number Word 2007
# Starting at the beginning of the document, place the cursor on the first page where you want to display the page number in a different format.
# On the Page Layout tab, in the Page Setup group, click Breaks.
# Under Section Breaks, click Next Page.
# On the Insert tab, in the Header & Footer group, click Header or Footer, and then click Edit Header or Edit Footer to make changes in the header or footer area.
The header or footer that contains the page number is labeled Section 2.
thanks Andrew .. :)
# On the Page Layout tab, in the Page Setup group, click Breaks.
# Under Section Breaks, click Next Page.
# On the Insert tab, in the Header & Footer group, click Header or Footer, and then click Edit Header or Edit Footer to make changes in the header or footer area.
The header or footer that contains the page number is labeled Section 2.
thanks Andrew .. :)
Tuesday, December 15, 2009
Don’t mix up dissatisfied with unsatisfied.
Don’t mix up dissatisfied with unsatisfied.
Dissatisfied applies only to people who are unhappy, frustrated or disappointed with a thing, person or situation. Examples:
* I was dissatisfied with the service I received at the restaurant.
* She was dissatisfied with his response to her question.
Unsatisfied refers to the feeling of needing more and can be used with abstract items. Examples:
* Despite the hearty meal, his hunger remained unsatisfied.
* She has had the bill for three weeks, but it still remained unsatisfied.
Dissatisfied applies only to people who are unhappy, frustrated or disappointed with a thing, person or situation. Examples:
* I was dissatisfied with the service I received at the restaurant.
* She was dissatisfied with his response to her question.
Unsatisfied refers to the feeling of needing more and can be used with abstract items. Examples:
* Despite the hearty meal, his hunger remained unsatisfied.
* She has had the bill for three weeks, but it still remained unsatisfied.
Saturday, December 5, 2009
Combining two Internet Connections
Combining two Internet Connections - Combining Bandwidth, or and Load Balancing of two Internet connections.
It is not a secret (and not necessarily a bad thing) that most of us are possessed with Speed. The fastest Car, the fastest Video for game, the fastest hard Drive, and now the fastest Internet download.
With the availability of many Internet connections a lot of people might have two broadband connections available, or Broadband + Dialup connection, or other combinations. One of the first thing that comes into their mind is: Can I combine the two connections and get a faster Download of flies and media?
First let clarify that we are talking about two independent connections. Some people try to put two modems on one DSL line, or two modems on one Cable Internet account.
It does not work this way. If by a mere “fluke” some thing is wrong with the ISP authentication system and it does work, it is illegal to do so and the ISP will caught you very fast.
So you have two independent legal Broadband accounts (can be two DSL two Cable or one of each.)
There are two terms that might be associated with using two independent Internet connections.
1. Combining Bandwidth.
2. Load Balancing two connections.
Let assume that you have two 3Mb/sec. connections each capable to download at 300KB/sec.
With Combined Bandwidth you should be able to download one file at 600KB/sec.
With Load Balancing one single file will not exceed download speed of 300KB/sec. However you can download 2 files at 300KB/sec. or 4 files at 150KB/sec. etc.
Unfortunately Combining Bandwidth can not be done without the ISP providing such a specific service.
Computers are Not mind readers. If the two connections are not synchronized at the source your computer would know how to combine it to a coherent page.
Any if and but about it is just Wishful thinking.
The price of such a service (if available) is usually much more expensive than upgrading your connection from the basic service to a faster business or corporate service.
If you do have two independent services you can achieve Load Balancing by using a Dual WAN Router.
Example: Dual WAN Routers.
This type of Cable/DSL Routers have two WAN connections for two Broadband Modems and they would mange the Internet traffic to the LAN to be used in the most efficient way.
source : http://www.ezlan.net/loadbalance.html
It is not a secret (and not necessarily a bad thing) that most of us are possessed with Speed. The fastest Car, the fastest Video for game, the fastest hard Drive, and now the fastest Internet download.
With the availability of many Internet connections a lot of people might have two broadband connections available, or Broadband + Dialup connection, or other combinations. One of the first thing that comes into their mind is: Can I combine the two connections and get a faster Download of flies and media?
First let clarify that we are talking about two independent connections. Some people try to put two modems on one DSL line, or two modems on one Cable Internet account.
It does not work this way. If by a mere “fluke” some thing is wrong with the ISP authentication system and it does work, it is illegal to do so and the ISP will caught you very fast.
So you have two independent legal Broadband accounts (can be two DSL two Cable or one of each.)
There are two terms that might be associated with using two independent Internet connections.
1. Combining Bandwidth.
2. Load Balancing two connections.
Let assume that you have two 3Mb/sec. connections each capable to download at 300KB/sec.
With Combined Bandwidth you should be able to download one file at 600KB/sec.
With Load Balancing one single file will not exceed download speed of 300KB/sec. However you can download 2 files at 300KB/sec. or 4 files at 150KB/sec. etc.
Unfortunately Combining Bandwidth can not be done without the ISP providing such a specific service.
Computers are Not mind readers. If the two connections are not synchronized at the source your computer would know how to combine it to a coherent page.
Any if and but about it is just Wishful thinking.
The price of such a service (if available) is usually much more expensive than upgrading your connection from the basic service to a faster business or corporate service.
If you do have two independent services you can achieve Load Balancing by using a Dual WAN Router.
Example: Dual WAN Routers.
This type of Cable/DSL Routers have two WAN connections for two Broadband Modems and they would mange the Internet traffic to the LAN to be used in the most efficient way.
source : http://www.ezlan.net/loadbalance.html
Monday, November 30, 2009
“penyakit” suka menunda-nunda pekerjaan
Banyak di antara kita yang punya “penyakit” suka menunda-nunda pekerjaan. Penyakit yang sebetulnya adalah kebiasaan, seringkali disebabkan karena kita malas mengerjakan sesuatu.
Menurut penelitian, kebiasaaan malas merupakan penyakit mental yang timbul karena ketakutan menghadapi konsekuensi masa depan. Yang dimaksud dengan masa depan bukan hanya satu atau dua tahun ke depan tetapi satu atau dua menit dari sekarang.
Kebiasaan malas timbul karena kecenderungan mengaitkan masa depan dengan persepsi negatif. Menunda-nunda pekerjaan pada akhirnya akan mengundang stress karena mau tidak mau satu saat kita harus mengerjakannya. Dan di waktu yang sama kita juga mungkin punya banyak pekerjaan lain.
Dalam beberapa hal, kita pun mungkin akan kehilangan momen untuk berkembang ketika mengatakan “tidak” terhadap sebuah peluang.
Di bawah ini diberikan beberapa tips untuk mengatasi rasa malas:
1.
Ganti “Kapan Selesainya” dengan “Saya Mulai Sekarang”
Katakan setiap kali bekerja:”Saya mulai sekarang”.
Cara pandang ini akan menghindarkan kita dari perasaan terbebani, stress, dan kesulitan. Kita membuat sederhana tugas di depan dengan bertindak positif. Fokus kita hanya pada satu hal pada satu waktu, bukan banyak hal pada saat yang sama.
2. Ganti “Saya Harus” dengan “Saya Ingin”
Cara pikir seperti ini akan menghilangkan mental blok dengan menerima bahwa kita tidak harus melakukan pekerjaan yang kita tidak mau.
Kita mau mengerjakan tugas karena memang kita ingin mengerjakannya, bukan karena paksaan pihak lain. Kita selalu punya pilihan dalam kehidupan ini. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang memaksa kita melakukan apa saja yang kita tidak mau lakukan.
Anda Bukan Manusia Sempurna
3. Berpikir bahwa harus menyelesaikan pekerjaan sesempurna mungkin akan membawa kita dalam kondisi mental tertekan. Mengakibatkan kita mungkin aka malas memulainya. Kita harus bisa menerima bahwa kita pun bisa berbuat salah dan tidak semua harus sempurna.
Mulai pekerjaan dari hal yang kecil dan sederhana, kemudian tingkatkan seiring dengan waktu. Berpikir bahwa pekerjaan harus diselesaikan dengan sempurna akan membuat kita memandang pekerjaan tersebut hal yang besar dan rumit.
Tiga tips di atas bisa menjadi awal untuk berpikir dan bertindak berbeda dari biasanya sehingga kita tidak menyia-nyiakan kesempatan karena kita malas mengerjakannya.
materi referensi:
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090502005216AASgIJC
Menurut penelitian, kebiasaaan malas merupakan penyakit mental yang timbul karena ketakutan menghadapi konsekuensi masa depan. Yang dimaksud dengan masa depan bukan hanya satu atau dua tahun ke depan tetapi satu atau dua menit dari sekarang.
Kebiasaan malas timbul karena kecenderungan mengaitkan masa depan dengan persepsi negatif. Menunda-nunda pekerjaan pada akhirnya akan mengundang stress karena mau tidak mau satu saat kita harus mengerjakannya. Dan di waktu yang sama kita juga mungkin punya banyak pekerjaan lain.
Dalam beberapa hal, kita pun mungkin akan kehilangan momen untuk berkembang ketika mengatakan “tidak” terhadap sebuah peluang.
Di bawah ini diberikan beberapa tips untuk mengatasi rasa malas:
1.
Ganti “Kapan Selesainya” dengan “Saya Mulai Sekarang”
Katakan setiap kali bekerja:”Saya mulai sekarang”.
Cara pandang ini akan menghindarkan kita dari perasaan terbebani, stress, dan kesulitan. Kita membuat sederhana tugas di depan dengan bertindak positif. Fokus kita hanya pada satu hal pada satu waktu, bukan banyak hal pada saat yang sama.
2. Ganti “Saya Harus” dengan “Saya Ingin”
Cara pikir seperti ini akan menghilangkan mental blok dengan menerima bahwa kita tidak harus melakukan pekerjaan yang kita tidak mau.
Kita mau mengerjakan tugas karena memang kita ingin mengerjakannya, bukan karena paksaan pihak lain. Kita selalu punya pilihan dalam kehidupan ini. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang memaksa kita melakukan apa saja yang kita tidak mau lakukan.
Anda Bukan Manusia Sempurna
3. Berpikir bahwa harus menyelesaikan pekerjaan sesempurna mungkin akan membawa kita dalam kondisi mental tertekan. Mengakibatkan kita mungkin aka malas memulainya. Kita harus bisa menerima bahwa kita pun bisa berbuat salah dan tidak semua harus sempurna.
Mulai pekerjaan dari hal yang kecil dan sederhana, kemudian tingkatkan seiring dengan waktu. Berpikir bahwa pekerjaan harus diselesaikan dengan sempurna akan membuat kita memandang pekerjaan tersebut hal yang besar dan rumit.
Tiga tips di atas bisa menjadi awal untuk berpikir dan bertindak berbeda dari biasanya sehingga kita tidak menyia-nyiakan kesempatan karena kita malas mengerjakannya.
materi referensi:
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090502005216AASgIJC
Tuesday, November 24, 2009
South South Policy Forum on Lifelong Learning as the Key to Education for Sustainable Development
South South Policy Forum on Lifelong Learning as the Key to Education for Sustainable Development
To reinforce UNESCO’s commitment to support the DESD, UNESCO Institute for Lifelong Learning (UIL), the Indonesia Ministry of National Education, and UNESCO Jakarta Office jointly organized this three-day Policy Forum on Lifelong Learning as the key to Education for Sustainable Development, in Jakarta, Indonesia from 21 to 23 April 2008.
Experts and high level education practitioners from Asia and Sub-Saharan Africa came together to share ideas and experiences on how their countries are linking economic, social, and environmental sustainable development with formal, non-formal and informal learning; to exchange concrete innovative practices, initiatives and projects directed to achieving holistic ESD goals;.
Key items for discussion were:
• conceptual clarifications of lifelong learning and our vision of sustainable development;
• the essential competencies in education for sustainable development;
• the changes called for in learning and teaching culture so as to further sustainable development;
• the institutional architecture of lifelong learning.
The focus of this forum was therefore on the potential role of non-formal and informal learning modalities in promoting sustainable development at the global, regional, national and local levels. These include projects for socially disadvantaged groups, farmers’ cooperatives, community-based organisations, trade union educational schemes, and learning on the job in the informal economy. Such learning modalities play an essential role, especially in countries where formal education is not accessible to all.
The outcomes of the dialogue include: a Strategy Paper by participating countries informing future policy and practice; a permanent professional network to support its implementation; and a forthcoming monograph to document and guide good practice, entitled Shaping Sustainable Futures: Learning for Life in the 21st Century.
@ http://www.unesco.or.id/activities/education/412.php
@ UIL - http://www.unesco.org/uil/
To reinforce UNESCO’s commitment to support the DESD, UNESCO Institute for Lifelong Learning (UIL), the Indonesia Ministry of National Education, and UNESCO Jakarta Office jointly organized this three-day Policy Forum on Lifelong Learning as the key to Education for Sustainable Development, in Jakarta, Indonesia from 21 to 23 April 2008.
Experts and high level education practitioners from Asia and Sub-Saharan Africa came together to share ideas and experiences on how their countries are linking economic, social, and environmental sustainable development with formal, non-formal and informal learning; to exchange concrete innovative practices, initiatives and projects directed to achieving holistic ESD goals;.
Key items for discussion were:
• conceptual clarifications of lifelong learning and our vision of sustainable development;
• the essential competencies in education for sustainable development;
• the changes called for in learning and teaching culture so as to further sustainable development;
• the institutional architecture of lifelong learning.
The focus of this forum was therefore on the potential role of non-formal and informal learning modalities in promoting sustainable development at the global, regional, national and local levels. These include projects for socially disadvantaged groups, farmers’ cooperatives, community-based organisations, trade union educational schemes, and learning on the job in the informal economy. Such learning modalities play an essential role, especially in countries where formal education is not accessible to all.
The outcomes of the dialogue include: a Strategy Paper by participating countries informing future policy and practice; a permanent professional network to support its implementation; and a forthcoming monograph to document and guide good practice, entitled Shaping Sustainable Futures: Learning for Life in the 21st Century.
@ http://www.unesco.or.id/activities/education/412.php
@ UIL - http://www.unesco.org/uil/
ESD in Indonesia, a reality check
Warief Djajanto Basorie
Bonn, a small town in Germany, will host the World Conference on Education for Sustainable Development, "Moving into the Second Half of the Decade."
More than 700 participants, from governments and international agencies to the private sector, from civil society organizations to educational institutes will meet there from March 31 to April 2, 2009. They will take stock of the achievements made and the lessons to be learned from the first five years of the United Nations Decade of Education for Sustainable Development, DESD, 2005-2014.
They will also set the agenda for the second half of the decade, particularly in the meeting of emerging sustainable development issues and the mapping out of the educational responses to them. Issues like the current global economic downturn and climate change are of deep concern.
Education for Sustainable Development (ESD) is the global effort led by the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization, UNESCO, to enhance public awareness and practice of sustainable development through all types of teaching and learning.
Sustainable development is development that meets the needs of people today and accounts for the needs for future generations. DESD is a 10-year agenda to change people's behavior, habits and lifestyles through ESD, to put in place sustainable development practices worldwide.
How has ESD worked in Indonesia? How is sustainable development practiced?
This writer traveled to 10 regions throughout Indonesia to observe ESD activities in the 15-month period from October 2007 to December 2008.
Each of the activities observed reflects engagement in one or several of the 11 core issues of the Asia-Pacific Regional Strategy for the DESD. These core issues range from information and awareness, to engagement of leaders.
In Batam, organic farmers in the Sei Temiang area grow cucumbers and mustard greens using compost. They manage biodiversity. In Surabaya, the Tunas Hijau (Green Buds) youth environment NGO, headed by a 19-year-old, conducted a seven-nation children's conference on climate change. The mostly elementary school children express an active awareness and literacy on global warming. In North Sumatra, the people of Bandar Setia village manage the environment and cultivate marketable fruit on once fallow public land through community development.
In West Java, in the Bale Endah area just south of Bandung, the Yayasan Masyarakat Sehat NGO (Healthy Community Foundation) promotes sustainable health. It helps to reduce the harm from injecting drug use that can cause HIV infection. In Palangkaraya, Central Kalimantan, students in state elementary school 4 (SDN 4) learn the tenets of good citizenship and governance. They demonstrate honesty in their habits by buying pens and erasers at an unattended honesty stall.
In Pekanbaru, Riau, state elementary school 5 (SDN 5) vigorously pushes forward environmental education. It becomes a model of how a community can enhance a green environment with advocacy from the students themselves, who bring home and promote their awareness and practices. In the hillside village of Meranti, north of Gorontalo City, Sulawesi, a rural community drives itself to transform barren land to a productive green.
In Balikpapan, East Kalimantan, enterprising women use small loans to create local jobs. Knowledge of micro credit empowers them to lead successful mini businesses.
In Lampung, jobless high school leavers have the promise of a hopeful future. They become tour guides in a government training program to help promote their region through tourism. In the East Bali village of Tenganan, famed for its geringsing cloth, local artisans sustain an indigenous knowledge system through the passing down of an exacting cloth weaving technique, the double tie-dye.
In conclusion, this unscientific, spot survey of 10 regions in Indonesia indicates Education for Sustainable Development is ingrained in the communities visited. Without having to know the term ESD, the people concerned practice ESD through belief, an activity that has a present and future value for them. They sustain and enhance that activity by a sense of common ownership, joint responsibility and a shared future.
A key to their success is local leaders who drove the ESD process forward. It is the unsung technology researcher in Batam, who introduced organic farming, or a local administrator in Lampung, who pushed for life skills training to advance local tourism.
It is the village head in North Sumatra who wanted his people to earn extra income through saving the soil. It is the rural community leader in Gorontalo who led the campaign to green the village valley or a youth advocate on AIDS in West Java who helped his peers save their future. It is the indefatigable school heads in Pekanbaru and Palangkaraya who wanted to realize a dream their students could live in.
Lessons from these local champions can buoy people with confidence that the ESD message does get through and get results. These movers and shakers for sustainable development have their counterparts around the world.
The writer teaches journalism at the Dr. Soetomo Press Institute, LPDS, in Jakarta #
source : http://www.mathaba.net/0_index.shtml?x=619120
Bonn, a small town in Germany, will host the World Conference on Education for Sustainable Development, "Moving into the Second Half of the Decade."
More than 700 participants, from governments and international agencies to the private sector, from civil society organizations to educational institutes will meet there from March 31 to April 2, 2009. They will take stock of the achievements made and the lessons to be learned from the first five years of the United Nations Decade of Education for Sustainable Development, DESD, 2005-2014.
They will also set the agenda for the second half of the decade, particularly in the meeting of emerging sustainable development issues and the mapping out of the educational responses to them. Issues like the current global economic downturn and climate change are of deep concern.
Education for Sustainable Development (ESD) is the global effort led by the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization, UNESCO, to enhance public awareness and practice of sustainable development through all types of teaching and learning.
Sustainable development is development that meets the needs of people today and accounts for the needs for future generations. DESD is a 10-year agenda to change people's behavior, habits and lifestyles through ESD, to put in place sustainable development practices worldwide.
How has ESD worked in Indonesia? How is sustainable development practiced?
This writer traveled to 10 regions throughout Indonesia to observe ESD activities in the 15-month period from October 2007 to December 2008.
Each of the activities observed reflects engagement in one or several of the 11 core issues of the Asia-Pacific Regional Strategy for the DESD. These core issues range from information and awareness, to engagement of leaders.
In Batam, organic farmers in the Sei Temiang area grow cucumbers and mustard greens using compost. They manage biodiversity. In Surabaya, the Tunas Hijau (Green Buds) youth environment NGO, headed by a 19-year-old, conducted a seven-nation children's conference on climate change. The mostly elementary school children express an active awareness and literacy on global warming. In North Sumatra, the people of Bandar Setia village manage the environment and cultivate marketable fruit on once fallow public land through community development.
In West Java, in the Bale Endah area just south of Bandung, the Yayasan Masyarakat Sehat NGO (Healthy Community Foundation) promotes sustainable health. It helps to reduce the harm from injecting drug use that can cause HIV infection. In Palangkaraya, Central Kalimantan, students in state elementary school 4 (SDN 4) learn the tenets of good citizenship and governance. They demonstrate honesty in their habits by buying pens and erasers at an unattended honesty stall.
In Pekanbaru, Riau, state elementary school 5 (SDN 5) vigorously pushes forward environmental education. It becomes a model of how a community can enhance a green environment with advocacy from the students themselves, who bring home and promote their awareness and practices. In the hillside village of Meranti, north of Gorontalo City, Sulawesi, a rural community drives itself to transform barren land to a productive green.
In Balikpapan, East Kalimantan, enterprising women use small loans to create local jobs. Knowledge of micro credit empowers them to lead successful mini businesses.
In Lampung, jobless high school leavers have the promise of a hopeful future. They become tour guides in a government training program to help promote their region through tourism. In the East Bali village of Tenganan, famed for its geringsing cloth, local artisans sustain an indigenous knowledge system through the passing down of an exacting cloth weaving technique, the double tie-dye.
In conclusion, this unscientific, spot survey of 10 regions in Indonesia indicates Education for Sustainable Development is ingrained in the communities visited. Without having to know the term ESD, the people concerned practice ESD through belief, an activity that has a present and future value for them. They sustain and enhance that activity by a sense of common ownership, joint responsibility and a shared future.
A key to their success is local leaders who drove the ESD process forward. It is the unsung technology researcher in Batam, who introduced organic farming, or a local administrator in Lampung, who pushed for life skills training to advance local tourism.
It is the village head in North Sumatra who wanted his people to earn extra income through saving the soil. It is the rural community leader in Gorontalo who led the campaign to green the village valley or a youth advocate on AIDS in West Java who helped his peers save their future. It is the indefatigable school heads in Pekanbaru and Palangkaraya who wanted to realize a dream their students could live in.
Lessons from these local champions can buoy people with confidence that the ESD message does get through and get results. These movers and shakers for sustainable development have their counterparts around the world.
The writer teaches journalism at the Dr. Soetomo Press Institute, LPDS, in Jakarta #
source : http://www.mathaba.net/0_index.shtml?x=619120
Tuesday, November 17, 2009
metode pemilihan sampel:
1.Probabiliy sampling
Teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) opulasi untuk dipilih menjadi anggota sampel
2.Simple random sampling
Teknik pengambilan sampel dari populasi sangat sederhana dengan cara mengambil acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi. Dengan sayarat anggota populasi homogen
3.Proportionate stratified random sampling
Teknik pengambilan sampel bila populasi tidak homogen dan berstrata secara proporsional
4.Disproportionate staratified ramdom sampling
Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrtata tapi kurang proporsional
5.Cluster sampling
Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek ayang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk suatu negara
6.Non-probability sampling
Teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel
7.Sampling sistematis
Teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut
8.Sampling kuota
Teknik menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah yang diinginkan
9.Sampling insidental
Teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel
10.Sampling purposive
Teknik penetuan sampel dengan pertimbangan tertentu, penelitian tentang kualitas makanan maka sampelnya orang ahli makanan
11.Sampling jenuh
Teknik pennetuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel
12.Snowball sampling
Teknik penentuan sampel yang mula-muala jumlahnya kecil, kemudian membesar
http://id.answers.yahoo.com
Teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) opulasi untuk dipilih menjadi anggota sampel
2.Simple random sampling
Teknik pengambilan sampel dari populasi sangat sederhana dengan cara mengambil acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi. Dengan sayarat anggota populasi homogen
3.Proportionate stratified random sampling
Teknik pengambilan sampel bila populasi tidak homogen dan berstrata secara proporsional
4.Disproportionate staratified ramdom sampling
Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrtata tapi kurang proporsional
5.Cluster sampling
Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek ayang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk suatu negara
6.Non-probability sampling
Teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel
7.Sampling sistematis
Teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut
8.Sampling kuota
Teknik menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah yang diinginkan
9.Sampling insidental
Teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel
10.Sampling purposive
Teknik penetuan sampel dengan pertimbangan tertentu, penelitian tentang kualitas makanan maka sampelnya orang ahli makanan
11.Sampling jenuh
Teknik pennetuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel
12.Snowball sampling
Teknik penentuan sampel yang mula-muala jumlahnya kecil, kemudian membesar
http://id.answers.yahoo.com
Populasi, Sampel Dan Teknik Sampling
stilah populasi, sampel dan teknis sampling sering kali kita dengar, namun terkadang istilah-istilah ini ada yang tidak dipahami betul. Oleh karena itu, tulisan ini akan membahas mengenai populasi, sampel dan teknik sampling.
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh obyek atau subyek tersebut. Bahkan satu orangpun dapat digunakan sebagai populasi, karena satu orang itu mempunyai berbagai karakteristik, misalnya gaya bicara, disiplin, pribadi, hobi, dan lain-lain.
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Apabila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada populasi, hal ini dikarenakan adanya keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Oleh karena itu sampel yang akan diambil dari populasi harus betul-betul representatif (dapat mewakili).
Teknik Sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Terdapat berbagai teknik sampling untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian. Teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu probability sampling dan non probability sampling.
Probability sampling adalah teknik sampling yang memberikan peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini meliputi simple random sampling, proportionate stratified random sampling, disproportinate statified random sampling dan cluster sampling (area sampling). Sedangkan non probability sampling adalah teknik yang tidak memberikan peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini terdiri sampling sistematis, , sampling kuota, sampling aksidental, sampling purposive, sampling jenuh dan snowball sampling.
Menentukan ukuran sampel merupakan bagian dari teknik sampling, dimana jumlah anggota sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang 100% mewakili populasi adalah sama dengan populasi. Makin besar jumlah sampel mendekati populasi, maka peluang keselahan generalisasi semakin kecil dan sebaliknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, maka makin besar kesalahan generalisasi (diberlakukan umum).
Terdapat dua rumus yang dapat digunakan untuk menghitung besarnya sampel yang diperlukan dalam penelitian. Selain itu juga diberikan cara menentukan ukuran sampel yang sangat praktis yaitu dengan menggunakan tabel dan nomogram. Tabel yang digunakan adalah tabel Krejcie dan Nomogram Harry King. Dengan kedua cara tersebut tidak perlu dilakukan perhitungan yang rumit.
Untuk pengertian dan penjelasan lebih lanjut mengenai probability sampling, non probability sampling serta cara menentukan ukuran sampel akan dibahas pada tulisan khusus mengenai Teknik Pengambilan Sampling.
http://asprosbinareka.com
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh obyek atau subyek tersebut. Bahkan satu orangpun dapat digunakan sebagai populasi, karena satu orang itu mempunyai berbagai karakteristik, misalnya gaya bicara, disiplin, pribadi, hobi, dan lain-lain.
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Apabila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada populasi, hal ini dikarenakan adanya keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Oleh karena itu sampel yang akan diambil dari populasi harus betul-betul representatif (dapat mewakili).
Teknik Sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Terdapat berbagai teknik sampling untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian. Teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu probability sampling dan non probability sampling.
Probability sampling adalah teknik sampling yang memberikan peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini meliputi simple random sampling, proportionate stratified random sampling, disproportinate statified random sampling dan cluster sampling (area sampling). Sedangkan non probability sampling adalah teknik yang tidak memberikan peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini terdiri sampling sistematis, , sampling kuota, sampling aksidental, sampling purposive, sampling jenuh dan snowball sampling.
Menentukan ukuran sampel merupakan bagian dari teknik sampling, dimana jumlah anggota sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang 100% mewakili populasi adalah sama dengan populasi. Makin besar jumlah sampel mendekati populasi, maka peluang keselahan generalisasi semakin kecil dan sebaliknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, maka makin besar kesalahan generalisasi (diberlakukan umum).
Terdapat dua rumus yang dapat digunakan untuk menghitung besarnya sampel yang diperlukan dalam penelitian. Selain itu juga diberikan cara menentukan ukuran sampel yang sangat praktis yaitu dengan menggunakan tabel dan nomogram. Tabel yang digunakan adalah tabel Krejcie dan Nomogram Harry King. Dengan kedua cara tersebut tidak perlu dilakukan perhitungan yang rumit.
Untuk pengertian dan penjelasan lebih lanjut mengenai probability sampling, non probability sampling serta cara menentukan ukuran sampel akan dibahas pada tulisan khusus mengenai Teknik Pengambilan Sampling.
http://asprosbinareka.com
Saturday, November 7, 2009
Perumahan di sisi barat kota Bandung
source: Setyardi Widodo
Blogger pinggiran. Lagi belajar jadi wartawan.
Saya tulis sedikit pengalaman ini, barangkali berguna untuk mereka yang sedang mencari rumah di kawasan barat Kota Bandung. Selama beberapa bulan terakhir ini saya memang mencermati rumah-rumah yang sedekat mungkin dengan pintu tol Pasteur akan tetapi dengan harga yang tetap terjangkau.
Saya membagi kawasan pengamatan secara umum menjadi dua. Pertama adalah daerah ‘gunung’ yang berhawa sejuk dengan kontur naik turun dan dekat tempat wisata. Wilayah ‘gunung’ ini meliputi Cihanjuang, Cipageran, Cimahi bagian utara, Sariwangi, dan sekitarnya.
Wilayah kedua adalah ‘kota’ yang relatif ramai, padat penduduk, banyak orang berjualan bermacam produk, dekat gerbang tol, dekat ITB. Wilayah yang saya maksud berada di sekitar Jalan Dakota, Jalan Mentor, Cimindi, Kebon Kopi, sisi belakang IPTN, dan sekitarnya.
***
Setelah ditinjau lagi, Cipageran tampaknya terlalu jauh. Jarak perumahan di sana bisa lebih dari 15 kilometer dari gerbang tol Pasteur, padahal sudah menerobos lewat Gunungbatu-Cimindi. Angkutan umum-nya juga tidak sebagus daerah lainnya. Jadi Cipageran dikeluarkan dari daftar.
Kawasan yang paling menarik adalah Cihanjuang. Cihanjuang sedang tumbuh pesat. Ujung depan jalan Cihanjuang berjarak 5 km dari pintu tol Pasteur kalau ditempuh lewat Gunungbatu-Cimindi.
Angkot menyusuri jalan Cihanjuang ada sampai sekitar jam 21.00. Minggu lalu saya mencoba pulang dari arah Cihanjuang jam 20.00 dan tidak mengalami kesulitan mendapatkan angkot.
Daerah ini konon lebih mudah diakses dengan angkutan umum dibandingkan Sariwangi-Ciwaruga yang sudah lebih dahulu tumbuh dan harga jual rumahnya sekarang gila-gilaan. Di Jalan Cihanjuang ada Kebun Strawberry yang jaraknya 8 km dari gerbang tol Pasteur.
***
Di Cihanjuang ada perumahan Artabaha (di jalan Artabahana). Unit yang tersisa tinggal beberapa kapling. Yang paling menarik dari perumahan ini adalah pembeli bisa memilih desain sendiri. Bahkan ukurannya pun bisa diubah. Misalnya, ukuran standar untuk tanah 120 meter adalah rumah tipe 60. Kita bisa nego menjadi tipe 50 dengan harga yang lebih murah. Untuk tipe 50/120 harganya sekitar Rp200 juta.
Perumahan di sini setahu saya termasuk paling murah dibandingkan dengan perumahan lain di sekitar Cihanjuang. Komplek berisi kurang dari 40 rumah ini bersebelahan dengan Perumahan Bumi Sariwangi yang terkenal itu, bahkan ada jalan tembus yang bisa diterobos dengan jalan kaki.
Konsep di perumahan ini adalah kuldesak, satu kluster dengan satu pintu dan ujungnya tembok jalan buntu. Salah satu masalah di sini adalah jauh dari masjid, dekat kuburan Cibaligo.
Perumahan lain yang juga tumbuh adalah Taman Cihanjuang, sekitar 1 km di sebelah utara Artabahana. Jalan masuk perumahan ini besar dan bagus.
Desain rumah-rumah di bagian depan tampak eksotik kendati kecil-kecil. Tapi harganya lumayan juga. Harga untuk tipe 29/93 adalah Rp171 juta, tipe 80/126 rp356 juta. Kapling yang tersisa adalah bagian belakang, berbatasan dengan Jalan Cisasawi. Posisi perumahan ini ada di sebelah barat Jalan Cihanjuang.
Sedikit lebih atas dari taman Cihanjuang ada Selaras Cihanjuang. Posisinya di sebalah timur Jalan Cihanjuang. Ini ready stock. Konsepnya minimalis dan keren. Ada gerbang di depan. Harganya untuk tipe 45/95 rp227 juta, untuk 60/117 rp292 juta, tipe 37/80 sebesar rp189 juta.
Dekat dengan Taman Cihanjuang ada juga Darul Fikri, dekat dengan SDIT Darul Fikri. Ini salah satu sekolah favorit di daerah itu. Pengembangnya sama dengan Artabahana, jadi harganya tidak terpaut terlalu jauh. Lebih murah daripada Taman Cihanjuang maupun Selaras Cihanjuang.
Masalahnya, jarak dari jalan raya Cihanjuang cukup jauh, capek juga kalau jalan kaki. Kontur tanahnya naik turun jadi kadangkala car port ada di bawah, lantainya ada di atas. Indah dan unik. Tapi butuh keahlian tersendiri untuk mengendalikan kendaraan ketika parkir atau maneuver atau bersimpang jalan.
***
Di Sariwangi ada banyak sekali perumahan yang sedang berkembang. Bumi Sariwangi konon akan membangun tipe-tipe kecil yang dipasarkan dengan kisaran Rp300 juta. Tapi, tanah di sana dihargai Rp2 juta per meter persegi dengan harga bangunan Rp2,75 juta per meter persegi.
Ujung barat Jalan Sariwangi yang bertemu dengan Jalan Cihanjuang berjarak sekitar 8,5 km dari pintu tol Pasteur. Saya belum sempat survey lebih banyak tentang daerah Sariwangi. Tetapi berhubung angkotnya tampaknya tidak semudah Cihanjuang, minat saya terhadap perumahan di sini turun.
***
Pengamata berikutnya di daerah kota. Di sana jarang ada perumahan dengan ukuran besar. Kalaupun ada yang besar, harganya tinggi sekali.
Di sekitar Jalan Dakota--Mentor ada pengembang bernama Kurjati membangun rumah ukuran mungil di daerah-daerah yang semula adalah kebon. Sebagian yang lain merupakan revitalisasi dari bangunan lama.
Pengembang semacam ini menarik sekali. Rumah yang saya kontrak sekarang ini adalah hasil karya Kurjati ini. Sekitar sembilan bulan lalu, ketika kami survey, rumah yang kami tempati ini masih berupa kebon. Sekarang sudah berjajar beberapa rumah.
Spanduk yang terpampang beberapa bulan lalu, spanduk terakhir, mencantumkan harga sekitar Rp117 juta untuk tipe 36/50. Tipe yang agak besar ada pada kisaran Rp150 juta. Bangunan dari Kurjati ini tersebar di berbagai penjuru sepanjang Dakota Mentor. Konon, harga perumahan Kurjati ini naik tiap bulan. Jadi entahlah berapa harga sekarang sebab tidak ada lagi spanduk yang terpampang.
Sayangnya, rumah-rumah itu dibangun di lokasi yang tidak bisa dijangkau mobil. Selain itu, skema pembayaran umumnya cash dan sulit mengakomodasi KPR.
Ada juga pengembang besar yang membangun perumahan eksklusif di daerah ini seperti Armala Pasteur serta beberapa bangunan baru di Mega Asri. Tapi harganya, untuk tipe kecil saja bisa di atas Rp300 juta.
***
Nah, di sela-sela hiruk pikuk itu ada juga perumahan kecil yang nyelip. Namanya Puri Matahari. Lokasinya di Google Earth atau Wikimapia masih berupa sawah. Posisinya persis di sebelah bekas pabrik Kerupuk Galunggung. Bisa masuk mobil baik lewat Dakota, Mentor, Babakan Cianjur, Babakan Radio.
Rumah ready stock di sana aslinya tipe 42 dengan ukuran tanah bervariasi antara 76 meter persegi dan 85 meter persegi. Harganya mulai Rp210 juta hingga Rp230-an juta. Konsepnya juga kuldesak alias jalan buntu. Dan kebetulan posisi perumahan ini juga di ujung Jalan Campaka yang buntu.
Jaraknya dengan garis lurus sekitar 700 meter dari gerbang tol Pasteur. Kalau mengikuti jalan yang bisa dilalui mobil jaraknya bervariasi antara 1,5 km dan 2,5km.
Menurut taksiran saya rumah di Puri Matahari relative murah dibandingkan perumahan lain di deerah itu. Tapi entah mengapa sudah setengah tahun, dari sembilan unit yang dibangun kok sampai dua pekan lalu masih tersisa 4 unit. Mungkin mereka tidak agresif berjualan sebab posisi harganya juga tidak banyak berbeda dibandingkan setengah tahun yang lalu.
Kalau mengamati masih banyak sawah di daerah ini, saya yakin dalam waktu dekat akan banyak bermunculan cluster-cluster kecil dengan sekitar 10 rumah di daerah ini. Wallahu alam.
Blogger pinggiran. Lagi belajar jadi wartawan.
Saya tulis sedikit pengalaman ini, barangkali berguna untuk mereka yang sedang mencari rumah di kawasan barat Kota Bandung. Selama beberapa bulan terakhir ini saya memang mencermati rumah-rumah yang sedekat mungkin dengan pintu tol Pasteur akan tetapi dengan harga yang tetap terjangkau.
Saya membagi kawasan pengamatan secara umum menjadi dua. Pertama adalah daerah ‘gunung’ yang berhawa sejuk dengan kontur naik turun dan dekat tempat wisata. Wilayah ‘gunung’ ini meliputi Cihanjuang, Cipageran, Cimahi bagian utara, Sariwangi, dan sekitarnya.
Wilayah kedua adalah ‘kota’ yang relatif ramai, padat penduduk, banyak orang berjualan bermacam produk, dekat gerbang tol, dekat ITB. Wilayah yang saya maksud berada di sekitar Jalan Dakota, Jalan Mentor, Cimindi, Kebon Kopi, sisi belakang IPTN, dan sekitarnya.
***
Setelah ditinjau lagi, Cipageran tampaknya terlalu jauh. Jarak perumahan di sana bisa lebih dari 15 kilometer dari gerbang tol Pasteur, padahal sudah menerobos lewat Gunungbatu-Cimindi. Angkutan umum-nya juga tidak sebagus daerah lainnya. Jadi Cipageran dikeluarkan dari daftar.
Kawasan yang paling menarik adalah Cihanjuang. Cihanjuang sedang tumbuh pesat. Ujung depan jalan Cihanjuang berjarak 5 km dari pintu tol Pasteur kalau ditempuh lewat Gunungbatu-Cimindi.
Angkot menyusuri jalan Cihanjuang ada sampai sekitar jam 21.00. Minggu lalu saya mencoba pulang dari arah Cihanjuang jam 20.00 dan tidak mengalami kesulitan mendapatkan angkot.
Daerah ini konon lebih mudah diakses dengan angkutan umum dibandingkan Sariwangi-Ciwaruga yang sudah lebih dahulu tumbuh dan harga jual rumahnya sekarang gila-gilaan. Di Jalan Cihanjuang ada Kebun Strawberry yang jaraknya 8 km dari gerbang tol Pasteur.
***
Di Cihanjuang ada perumahan Artabaha (di jalan Artabahana). Unit yang tersisa tinggal beberapa kapling. Yang paling menarik dari perumahan ini adalah pembeli bisa memilih desain sendiri. Bahkan ukurannya pun bisa diubah. Misalnya, ukuran standar untuk tanah 120 meter adalah rumah tipe 60. Kita bisa nego menjadi tipe 50 dengan harga yang lebih murah. Untuk tipe 50/120 harganya sekitar Rp200 juta.
Perumahan di sini setahu saya termasuk paling murah dibandingkan dengan perumahan lain di sekitar Cihanjuang. Komplek berisi kurang dari 40 rumah ini bersebelahan dengan Perumahan Bumi Sariwangi yang terkenal itu, bahkan ada jalan tembus yang bisa diterobos dengan jalan kaki.
Konsep di perumahan ini adalah kuldesak, satu kluster dengan satu pintu dan ujungnya tembok jalan buntu. Salah satu masalah di sini adalah jauh dari masjid, dekat kuburan Cibaligo.
Perumahan lain yang juga tumbuh adalah Taman Cihanjuang, sekitar 1 km di sebelah utara Artabahana. Jalan masuk perumahan ini besar dan bagus.
Desain rumah-rumah di bagian depan tampak eksotik kendati kecil-kecil. Tapi harganya lumayan juga. Harga untuk tipe 29/93 adalah Rp171 juta, tipe 80/126 rp356 juta. Kapling yang tersisa adalah bagian belakang, berbatasan dengan Jalan Cisasawi. Posisi perumahan ini ada di sebelah barat Jalan Cihanjuang.
Sedikit lebih atas dari taman Cihanjuang ada Selaras Cihanjuang. Posisinya di sebalah timur Jalan Cihanjuang. Ini ready stock. Konsepnya minimalis dan keren. Ada gerbang di depan. Harganya untuk tipe 45/95 rp227 juta, untuk 60/117 rp292 juta, tipe 37/80 sebesar rp189 juta.
Dekat dengan Taman Cihanjuang ada juga Darul Fikri, dekat dengan SDIT Darul Fikri. Ini salah satu sekolah favorit di daerah itu. Pengembangnya sama dengan Artabahana, jadi harganya tidak terpaut terlalu jauh. Lebih murah daripada Taman Cihanjuang maupun Selaras Cihanjuang.
Masalahnya, jarak dari jalan raya Cihanjuang cukup jauh, capek juga kalau jalan kaki. Kontur tanahnya naik turun jadi kadangkala car port ada di bawah, lantainya ada di atas. Indah dan unik. Tapi butuh keahlian tersendiri untuk mengendalikan kendaraan ketika parkir atau maneuver atau bersimpang jalan.
***
Di Sariwangi ada banyak sekali perumahan yang sedang berkembang. Bumi Sariwangi konon akan membangun tipe-tipe kecil yang dipasarkan dengan kisaran Rp300 juta. Tapi, tanah di sana dihargai Rp2 juta per meter persegi dengan harga bangunan Rp2,75 juta per meter persegi.
Ujung barat Jalan Sariwangi yang bertemu dengan Jalan Cihanjuang berjarak sekitar 8,5 km dari pintu tol Pasteur. Saya belum sempat survey lebih banyak tentang daerah Sariwangi. Tetapi berhubung angkotnya tampaknya tidak semudah Cihanjuang, minat saya terhadap perumahan di sini turun.
***
Pengamata berikutnya di daerah kota. Di sana jarang ada perumahan dengan ukuran besar. Kalaupun ada yang besar, harganya tinggi sekali.
Di sekitar Jalan Dakota--Mentor ada pengembang bernama Kurjati membangun rumah ukuran mungil di daerah-daerah yang semula adalah kebon. Sebagian yang lain merupakan revitalisasi dari bangunan lama.
Pengembang semacam ini menarik sekali. Rumah yang saya kontrak sekarang ini adalah hasil karya Kurjati ini. Sekitar sembilan bulan lalu, ketika kami survey, rumah yang kami tempati ini masih berupa kebon. Sekarang sudah berjajar beberapa rumah.
Spanduk yang terpampang beberapa bulan lalu, spanduk terakhir, mencantumkan harga sekitar Rp117 juta untuk tipe 36/50. Tipe yang agak besar ada pada kisaran Rp150 juta. Bangunan dari Kurjati ini tersebar di berbagai penjuru sepanjang Dakota Mentor. Konon, harga perumahan Kurjati ini naik tiap bulan. Jadi entahlah berapa harga sekarang sebab tidak ada lagi spanduk yang terpampang.
Sayangnya, rumah-rumah itu dibangun di lokasi yang tidak bisa dijangkau mobil. Selain itu, skema pembayaran umumnya cash dan sulit mengakomodasi KPR.
Ada juga pengembang besar yang membangun perumahan eksklusif di daerah ini seperti Armala Pasteur serta beberapa bangunan baru di Mega Asri. Tapi harganya, untuk tipe kecil saja bisa di atas Rp300 juta.
***
Nah, di sela-sela hiruk pikuk itu ada juga perumahan kecil yang nyelip. Namanya Puri Matahari. Lokasinya di Google Earth atau Wikimapia masih berupa sawah. Posisinya persis di sebelah bekas pabrik Kerupuk Galunggung. Bisa masuk mobil baik lewat Dakota, Mentor, Babakan Cianjur, Babakan Radio.
Rumah ready stock di sana aslinya tipe 42 dengan ukuran tanah bervariasi antara 76 meter persegi dan 85 meter persegi. Harganya mulai Rp210 juta hingga Rp230-an juta. Konsepnya juga kuldesak alias jalan buntu. Dan kebetulan posisi perumahan ini juga di ujung Jalan Campaka yang buntu.
Jaraknya dengan garis lurus sekitar 700 meter dari gerbang tol Pasteur. Kalau mengikuti jalan yang bisa dilalui mobil jaraknya bervariasi antara 1,5 km dan 2,5km.
Menurut taksiran saya rumah di Puri Matahari relative murah dibandingkan perumahan lain di deerah itu. Tapi entah mengapa sudah setengah tahun, dari sembilan unit yang dibangun kok sampai dua pekan lalu masih tersisa 4 unit. Mungkin mereka tidak agresif berjualan sebab posisi harganya juga tidak banyak berbeda dibandingkan setengah tahun yang lalu.
Kalau mengamati masih banyak sawah di daerah ini, saya yakin dalam waktu dekat akan banyak bermunculan cluster-cluster kecil dengan sekitar 10 rumah di daerah ini. Wallahu alam.
Friday, November 6, 2009
Apa itu KOMPETENSI ?
Kata kompetensi (competence) sebagaimana kebanyakan kata di dunia ini, berasal dari bahasa Latin competens. Competens merupakan bentuk present participle dari kata kerja competere. Kata ini mengandung dua unsur: com, yang berarti “bersama-sama (together)”, dan petere, yang berarti berjuang (strive). Jadi competere secara literal berarti berjuang bersama (to strive together).
Menarik sekali bahwa kata kompetensi (competence) dan kompetensi (competition) keduanya merupakan derivasi dari competere. Dan sebagaimana kita sudah mahfum bersama kini, kompetisi adalah kekuatan penggerak dibalik fokus industri pada kompetensi. “Interestingly, as we have seen, competition is the driving force behind the current focus on competence”.
Ide mengenai kompetensi erat hubungannya dengan ide mengenai kapabilitas. Orang yang berkompeten adalah orang yang kapabel. Sebagaimana tim yang kompeten tentu tim yang kapabel. Dan organisasi yang berkompeten adalah organisasi yang kapabel. Asosiasi kompetensi dan kapabilitas ini tentu saja membuat kompetensi berkaitan dengan kesuksesan menuntaskan pekerjaan (getting the job done). Dalam konteks manajemen mutakhir kini, kompetensi adalah segala sesuatu mengenai penciptaan nilai tambah. Competence is about adding value.
Dampaknya, semakin banyak perusahaan, organisasi, sekolah, praktisi dan konsultan yang berfokus pada pendekatan berbasis kompetensi. Muncullah gerakan mengkompetensikan segala sesuatu. Di Eropa dan Amerika menyebutnya sebagai competency movement. Gerakan kompetensi awalnya mempertanyakan dua hal sederhana” “Kita sebaiknya bagus di bidang apa? Dan bagaimana kita dapat mengembangkan kompetensi apa saja yang diperlukan sehingga bisa sangat bagus di bidang tersebut?”
Gerakan mengkompetensikan segala sesuatu ini semakin menggema melalui salah satu ikonnya, ketika C.K. Prahalad dan Gary Hamel’s menulis artikel “The Core Competence of the Organization’s” dalam salah satu edisi Harvard Business Review 1990. Prahalad dan Hamel yakin bahwa organisasi atau perusahaan yang bisa bertahan di dunia industri yang turbulen saat ini adalah yang mampu memelihara dan mengembangkan kompetensi intinya. “Oganizations that will survive and thrive in these turbulent times are those that nurture their core competencies”.
di dalam dunia pendidikan kita mengenal yang disebut kombinasi dari KSA (Knowledge Skills dan Attitude) - PKS (Pengetahuan Keterampilan dan Sikap). Kemampuan untuk meramu KSA sehingga bisa diimplementasikan untuk melaksanakan tugas merupakan kompetensi. Saya pribadi lebih menyukai istilah KSB (Knowledge Skill Behavior) atau PKP (Pengetahuan Ketrampilan Perilaku) karena perilaku merupakan perwujudan nyata dari attitude atau sikap.
Kebutuhan akan sebuah kata kompetensi sebenarnya adalah lahir dari kebutuhan bagian sumber daya manusia untuk mendapatkan sebuah deskripsi abstrak terhadap ramuan KSB dalam kerangka sebuah tugas atau pekerjaan tertentu. Harus diakui, tidak pernah ada sebuah tugas atau pekerjaan yang tidak mengandung unsur KSB. Anda menghitung uang saja misalnya, ada unsur kejujuran disitu yang merupakan sebuah perilaku atau sikap.
Sehingga kompetensi dapat didefinisikan dengan sebuah deskripsi persyaratan standard dari seorang individu berbentuk ramuan antara pengetahuan, keterampilan dan perilaku untuk dapat melakukan tugas yang spesifik dalam tingkat kinerja tertentu.
Jika dibagi 2 definisi diatas maka penjelasannya adalah berikut
(1) Deskripsi persyaratan standar dalam bentuk KSB/PKP maka dalam penyusunan deskripsi tadi mengacu kepada 3 dimensi yaitu
Tingkatan pemahaman pengetahuan (biasanya digunakan bloom taxonomy) yang dimulai dari I know, I understand, I can apply, I can analyze, I can synthesize, and I can Evaluate untuk satu atau beberapa pengetahuan. Tingkatan untuk keterampilan adalah insting berlogika dan insting otomatis. Sedangkan tingkatan untuk perilaku adalah pasif, responsif, kesadaran nilai, konseptualisasi nilai, proaktif.
(2) untuk dapat melakukan tugas yang spesifik dalam tingkat kinerja tertentu
Sebuah tugas (yang biasanya lekat dengan jabatan) harus memiliki deskripsi yang jelas karena jika tidak akan sulit mendefinisikan kompetensinya. Tugas “menyediakan makan siang buat staf” bagi seorang office boy mungkin akan bervariasi dari masak sendiri, order delivery hingga beli di warteg langsung.
Tingkat kinerja tertentu merupakan bentuk ukuran kinerja yang diharapkan dicapai. Sebaiknya menghindari kata-kata abstrak seperti “baik”, “sempurna” yang bisa memiliki standar berbeda tergantung dari persepsi penilainya. Ukuran kuantitatif seperti “% benar” atau “% selesai” mungkin lebih baik.
Bedakan kompetensi dan kompeten. Kompeten merupakan sebuah “predikat” yang kita berika kepada seseorang yang berhasil meramu KSA yang dimilikinya untuk melakukan tugas tertentu. Tentunya tugas tersebut telah memiliki sebuah standar kompetensi tertentu. Kompetensi=kriteria KSA.
Pendefinisian kompetensi tidak bisa lepas dari definisi dari “saudara”nya yaitu kapabilitas (capability), yang jika diindonesiakan disebut sebagai mampu. Sebuah diskusi yang menarik adalah jika anda menganggap seseorang mampu apakah berarti dia adalah kompeten(/bisa)?
Menurut saya kapabilitas (/kemampuan) adalah kapasitas, dimana didalam kapasitas bisa berkembang tidak hanya melalui pengembangan KSA tetapi juga pengalaman. Semakin banyak dan beranekaragam pengalaman yang dimiliki maka kapabilitas akan meningkat. Kapabilitas=Kapasitas+Pengalaman.
Kapabilitas mirip modal, yang dapat disalurkan dalam berbagai variasi bentuk untuk melakukan tugas yang belum pernah dilakukan (unknown task)
Menarik sekali bahwa kata kompetensi (competence) dan kompetensi (competition) keduanya merupakan derivasi dari competere. Dan sebagaimana kita sudah mahfum bersama kini, kompetisi adalah kekuatan penggerak dibalik fokus industri pada kompetensi. “Interestingly, as we have seen, competition is the driving force behind the current focus on competence”.
Ide mengenai kompetensi erat hubungannya dengan ide mengenai kapabilitas. Orang yang berkompeten adalah orang yang kapabel. Sebagaimana tim yang kompeten tentu tim yang kapabel. Dan organisasi yang berkompeten adalah organisasi yang kapabel. Asosiasi kompetensi dan kapabilitas ini tentu saja membuat kompetensi berkaitan dengan kesuksesan menuntaskan pekerjaan (getting the job done). Dalam konteks manajemen mutakhir kini, kompetensi adalah segala sesuatu mengenai penciptaan nilai tambah. Competence is about adding value.
Dampaknya, semakin banyak perusahaan, organisasi, sekolah, praktisi dan konsultan yang berfokus pada pendekatan berbasis kompetensi. Muncullah gerakan mengkompetensikan segala sesuatu. Di Eropa dan Amerika menyebutnya sebagai competency movement. Gerakan kompetensi awalnya mempertanyakan dua hal sederhana” “Kita sebaiknya bagus di bidang apa? Dan bagaimana kita dapat mengembangkan kompetensi apa saja yang diperlukan sehingga bisa sangat bagus di bidang tersebut?”
Gerakan mengkompetensikan segala sesuatu ini semakin menggema melalui salah satu ikonnya, ketika C.K. Prahalad dan Gary Hamel’s menulis artikel “The Core Competence of the Organization’s” dalam salah satu edisi Harvard Business Review 1990. Prahalad dan Hamel yakin bahwa organisasi atau perusahaan yang bisa bertahan di dunia industri yang turbulen saat ini adalah yang mampu memelihara dan mengembangkan kompetensi intinya. “Oganizations that will survive and thrive in these turbulent times are those that nurture their core competencies”.
di dalam dunia pendidikan kita mengenal yang disebut kombinasi dari KSA (Knowledge Skills dan Attitude) - PKS (Pengetahuan Keterampilan dan Sikap). Kemampuan untuk meramu KSA sehingga bisa diimplementasikan untuk melaksanakan tugas merupakan kompetensi. Saya pribadi lebih menyukai istilah KSB (Knowledge Skill Behavior) atau PKP (Pengetahuan Ketrampilan Perilaku) karena perilaku merupakan perwujudan nyata dari attitude atau sikap.
Kebutuhan akan sebuah kata kompetensi sebenarnya adalah lahir dari kebutuhan bagian sumber daya manusia untuk mendapatkan sebuah deskripsi abstrak terhadap ramuan KSB dalam kerangka sebuah tugas atau pekerjaan tertentu. Harus diakui, tidak pernah ada sebuah tugas atau pekerjaan yang tidak mengandung unsur KSB. Anda menghitung uang saja misalnya, ada unsur kejujuran disitu yang merupakan sebuah perilaku atau sikap.
Sehingga kompetensi dapat didefinisikan dengan sebuah deskripsi persyaratan standard dari seorang individu berbentuk ramuan antara pengetahuan, keterampilan dan perilaku untuk dapat melakukan tugas yang spesifik dalam tingkat kinerja tertentu.
Jika dibagi 2 definisi diatas maka penjelasannya adalah berikut
(1) Deskripsi persyaratan standar dalam bentuk KSB/PKP maka dalam penyusunan deskripsi tadi mengacu kepada 3 dimensi yaitu
Tingkatan pemahaman pengetahuan (biasanya digunakan bloom taxonomy) yang dimulai dari I know, I understand, I can apply, I can analyze, I can synthesize, and I can Evaluate untuk satu atau beberapa pengetahuan. Tingkatan untuk keterampilan adalah insting berlogika dan insting otomatis. Sedangkan tingkatan untuk perilaku adalah pasif, responsif, kesadaran nilai, konseptualisasi nilai, proaktif.
(2) untuk dapat melakukan tugas yang spesifik dalam tingkat kinerja tertentu
Sebuah tugas (yang biasanya lekat dengan jabatan) harus memiliki deskripsi yang jelas karena jika tidak akan sulit mendefinisikan kompetensinya. Tugas “menyediakan makan siang buat staf” bagi seorang office boy mungkin akan bervariasi dari masak sendiri, order delivery hingga beli di warteg langsung.
Tingkat kinerja tertentu merupakan bentuk ukuran kinerja yang diharapkan dicapai. Sebaiknya menghindari kata-kata abstrak seperti “baik”, “sempurna” yang bisa memiliki standar berbeda tergantung dari persepsi penilainya. Ukuran kuantitatif seperti “% benar” atau “% selesai” mungkin lebih baik.
Bedakan kompetensi dan kompeten. Kompeten merupakan sebuah “predikat” yang kita berika kepada seseorang yang berhasil meramu KSA yang dimilikinya untuk melakukan tugas tertentu. Tentunya tugas tersebut telah memiliki sebuah standar kompetensi tertentu. Kompetensi=kriteria KSA.
Pendefinisian kompetensi tidak bisa lepas dari definisi dari “saudara”nya yaitu kapabilitas (capability), yang jika diindonesiakan disebut sebagai mampu. Sebuah diskusi yang menarik adalah jika anda menganggap seseorang mampu apakah berarti dia adalah kompeten(/bisa)?
Menurut saya kapabilitas (/kemampuan) adalah kapasitas, dimana didalam kapasitas bisa berkembang tidak hanya melalui pengembangan KSA tetapi juga pengalaman. Semakin banyak dan beranekaragam pengalaman yang dimiliki maka kapabilitas akan meningkat. Kapabilitas=Kapasitas+Pengalaman.
Kapabilitas mirip modal, yang dapat disalurkan dalam berbagai variasi bentuk untuk melakukan tugas yang belum pernah dilakukan (unknown task)
Thursday, November 5, 2009
Introduction to Research
Research is the cornerstone of any science, including both the hard sciences such as chemistry or physics and the social (or soft) sciences such as psychology, management, or education. It refers to the organized, structured, and purposeful attempt to gain knowledge about a suspected relationship.
Many argue that the structured attempt at gaining knowledge dates back to Aristotle and his identification of deductive reasoning. Deductive reasoning refers to a structured approach utilizing an accepted premise (known as a major premise), a related minor premise, and an obvious conclusion. This way of gaining knowledge has been called a syllogism, and by following downward from the general to the specific, knowledge can be gained about a particular relationship. An example of an Aristotelian syllogism might be:
Major Premise: All students attend school regularly
Minor Premise: John is a student
Conclusion: John attends school regularly
In the early 1600s, Francis Bacon identified a different approach to gaining knowledge. Rather than moving from the general to the specific, Bacon looked at the gathering of specific information in order to make general conclusions. This type of reasoning is called inductive and unlike Aristotelian logic allows new major premises to be determined. Inductive reasoning has been
adopted into the sciences as the preferred way to explore new relationships because it allows us to use accepted knowledge as a means to gain new knowledge.
For example:
Specific Premises: John, Sally, Lenny and Sue attended class regularly
Specific Premises: John, Sally, Lenny, and Sue received high grades
Conclusion: Attending class regularly results in high grades
Researchers combine the powers of deductive and inductive reasoning into what is referred to now as the scientific method. It involves the determination of a major premise (called a theory or a hypothesis) and then the analysis of the specific examples (research) that would logically
follow.
The results might look something like:
Major Premise: Attending classes regularly results in high grades
Group 1: John, Sally, Lenny and Class Attendance: Sue attend classes regularly
(Suspected Cause)
Group 2: Heather, Lucinda, Ling, and Bob do not attend classes
regularly
Grades: Group 1: John, Sally Lenny, and Sue received A’s and B’s
(Suspected Effect)
Group 2: Heather, Lucinda, Ling, and Bob received C’s and D’s
Conclusion: Attending class regularly results in higher grades when compared
with not attending class regularly (the Major Premise or Hypothesis
is therefore supported)
Utilizing the scientific method for gaining new information and testing the validity of a major
premise, John Dewey suggested a series of logical steps to follow when attempting to support a theory or hypothesis with actual data. In other words, he proposed using deductive reasoning to develop a theory followed by inductive reasoning to support it. These steps can be found in
Table 1.1.
Table 1.1: Dewey’s Scientific Method

The steps involved in the research process can vary depending on the type of research being
done and the hypothesis being tested. The most stringent types of research, such as
experimental methods (sometimes called laboratory research), contain the most structured
process. Naturalistic observation, surveys, and other non-intrusive studies, are often less
structured. A general process guide for doing research, especially laboratory research, can be
found in Table 1.2.
Table 1.2: Steps Involved in the Research Process
Many argue that the structured attempt at gaining knowledge dates back to Aristotle and his identification of deductive reasoning. Deductive reasoning refers to a structured approach utilizing an accepted premise (known as a major premise), a related minor premise, and an obvious conclusion. This way of gaining knowledge has been called a syllogism, and by following downward from the general to the specific, knowledge can be gained about a particular relationship. An example of an Aristotelian syllogism might be:
Major Premise: All students attend school regularly
Minor Premise: John is a student
Conclusion: John attends school regularly
In the early 1600s, Francis Bacon identified a different approach to gaining knowledge. Rather than moving from the general to the specific, Bacon looked at the gathering of specific information in order to make general conclusions. This type of reasoning is called inductive and unlike Aristotelian logic allows new major premises to be determined. Inductive reasoning has been
adopted into the sciences as the preferred way to explore new relationships because it allows us to use accepted knowledge as a means to gain new knowledge.
For example:
Specific Premises: John, Sally, Lenny and Sue attended class regularly
Specific Premises: John, Sally, Lenny, and Sue received high grades
Conclusion: Attending class regularly results in high grades
Researchers combine the powers of deductive and inductive reasoning into what is referred to now as the scientific method. It involves the determination of a major premise (called a theory or a hypothesis) and then the analysis of the specific examples (research) that would logically
follow.
The results might look something like:
Major Premise: Attending classes regularly results in high grades
Group 1: John, Sally, Lenny and Class Attendance: Sue attend classes regularly
(Suspected Cause)
Group 2: Heather, Lucinda, Ling, and Bob do not attend classes
regularly
Grades: Group 1: John, Sally Lenny, and Sue received A’s and B’s
(Suspected Effect)
Group 2: Heather, Lucinda, Ling, and Bob received C’s and D’s
Conclusion: Attending class regularly results in higher grades when compared
with not attending class regularly (the Major Premise or Hypothesis
is therefore supported)
Utilizing the scientific method for gaining new information and testing the validity of a major
premise, John Dewey suggested a series of logical steps to follow when attempting to support a theory or hypothesis with actual data. In other words, he proposed using deductive reasoning to develop a theory followed by inductive reasoning to support it. These steps can be found in
Table 1.1.
Table 1.1: Dewey’s Scientific Method

The steps involved in the research process can vary depending on the type of research being
done and the hypothesis being tested. The most stringent types of research, such as
experimental methods (sometimes called laboratory research), contain the most structured
process. Naturalistic observation, surveys, and other non-intrusive studies, are often less
structured. A general process guide for doing research, especially laboratory research, can be
found in Table 1.2.
Table 1.2: Steps Involved in the Research Process
Monday, November 2, 2009
Artikel: Benarkah Dalam Setiap Kesulitan Terdapat Kemudahan?
Salah satu pelajaran penting yang disampaikan guru mengaji saya adalah firman Tuhan yang berbunyi; ”Sesungguhnya, dalam setiap kesulitan, terdapat kemudahan.” Bagi saya, ini adalah firman yang sangat motivatif. Dia menguatkan kita saat menghadapi situasi sulit. Dan karena tak seorangpun dimuka bumi ini yang terbebas dari kesulitan hidup, maka sesungguhnya firman itu merupakan penghiburan bagi semua orang. Dengan firman itu, seolah Tuhan memberikan penegasan kepada kita semua bahwa kesulitan pasti akan datang. Namun, tak satupun dari kesulitan itu yang tidak memiliki kemudahan. Lantas, saya pribadi bertanya-tanya; ”apakah kemudahan itu ada ’setelah’ kesulitan berakhir, atau memang Tuhan bermaksud mengatakan bahwa kemudahan itu ada ’didalam’ kesulitan? ”
Untuk alasan kepraktisan, sebenarnya saya lebih suka membeli beras dalam kemasan karung. Selain tidak perlu bolak-balik ke warung dua hari sekali, membeli beras karungan juga memberi saya bonus berupa karung yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Namun, ada satu hal yang sangat tidak saya sukai, yaitu sulit sekali membuka tali simpul yang mengikat karung itu. Kadang-kadang saya harus menggunakan garpu atau tusuk gigi sebagai alat pengait untuk mengurai simpulnya satu demi satu. Tak jarang saya menjadi sangat kesal, lalu menggunakan pisau untuk merobek bagian atas karung itu agar bisa mengeluarkan berasnya. Oleh karena itu saya lebih sering membeli beras dalam kemasan kantung plastik. Isinya sedikit, tapi gampang membukanya. Memang, ini hanya soal pilihan. Apakah saya akan memilih karungan atau plastikan. Kira-kira demikian.
Sama halnya dengan hidup kita. Ketika kita memutuskan untuk memilih tentu kita memiliki alasan yang membuat kita berpikir bahwa jalan hidup itulah yang paling kita inginkan. Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensi masing-masing. Dalam konteks ini berupa kesulitan dan kepedihan saat kita menjalaninya. Dalam banyak situasi, kita boleh memilih untuk mengerjakan hal-hal yang mudah; tetapi, biasanya hasilnya tidak terlampau berarti. Pekerjaan mudah yang kita lakukan itu tidak memberi dampak yang bermakna bagi perusahaan atau diri kita sendiri. Sebaliknya, jika kita memilih untuk melakukan sebuah project yang besar lagi rumit, mungkin hasilnya akan banyak. Namun, untuk menyelesaikannya kita harus bersedia menjalani lika-liku yang teramat sulit dan penuh rasa sakit.
Suatu ketika, saya kembali tergoda untuk membeli beras dalam karung. Disaat rasa putus asa hampir memenuhi ubun-ubun; secara tidak sengaja saya menarik ujung tali simpul dibagian lain dari pengikat karung itu. Ajaib sekali, ketika ujung tali itu ditarik; srrrrrrrrrreeeeeeet .....kesuluruhan tali simpul pengikat itu terlepas dengan begitu mudahnya! Sungguh, dengan cara itu hampir tidak ada tenaga yang terbuang. Dengan cara lama, saya harus sampai berkeringat dan menghabiskan waktu lebih dari lima belas menit untuk membuka simpul demi simpul yang ada. Tetapi, ketika ujung tali ajaib itu ditemukan, saya cukup menariknya nyaris tanpa tenaga, dan hanya butuh waktu kurang dari 3 detik untuk membuka karung itu. Lebih dari itu, karung berasnya pun utuh tidak kurang satu apapun.
Jika anda belum tahu tentang rahasia simpul karung beras ini; anda harus mencoba menemukan keajaibannya. Karena, simpul karung beras memberitahu kita sebuah rahasia yang selama ini sering kita ragukan, yaitu; ”Sesungguhnya, dalam setiap kesulitan, terdapat kemudahan.” Karung beras ini berhasil mengubah paradigma lama saya. Semula, saya mengira bahwa: kalau kita mau bersabar dalam kesulitan, maka ’diakhir’ perjalanan kita akan sampai kepada sebuah kemudahan. Sehingga, selama ini saya berfokus kepada usaha ’menguatkan diri’ untuk menempuh jalan sulit itu dengan sabar dan tabah, hingga saya bisa bertahan untuk tiba diakhir yang menyenangkan. Seperti memanjat gunung tinggi; jika kita bisa terus beranjak naik, kita akan sampai juga kepuncak tertinggi.
Sebaliknya, tali itu dengan gamblang menunjukkan bahwa kita tidak harus membuka satu demi satu simpul yang sulit itu terlebih dahulu untuk bisa membuka keseluruhan simpul karung. Justru, dia memperlihatkan bahwa ada cara yang sangat mudah yang tersembunyi dibalik setiap simpul yang sulit diurai itu. Tugas kita adalah untuk menemukan kemudahan itu tanpa harus mengurainya satu demi satu terlebih dahulu.
Barangkali, hidup juga memang demikian adanya. Itulah sebabnya, mengapa begitu banyak orang yang menderita dalam menjalani hidupnya. Seolah mereka berpindah dari satu kesulitan hidup, kepada kesulitan hidup yang lain. Namun, pada situasi yang sama; ada banyak orang yang bisa menjalaninya dengan begitu mudahnya. Seolah mereka selalu bisa menemukan jalan keluar dari setiap persoalan hidup yang menghadangnya. Ada apa ini sebenarnya? Barangkali, itu terjadi karena kita belum benar-benar memahami apa yang Tuhan isyaratkan dalam firmanNya; ”Sesungguhnya, dalam setiap kesulitan, terdapat kemudahan.” Andai saja kita bisa menemukan simpul rahasia untuk mengurai belitan-belitan kesulitan hidup itu; mungkin kita bisa menjalaninya dengan teramat sangat mudah. Tidak peduli sesulit apa situasinya.
Sekarang, setiap kali saya membeli beras dalam karung; saya tidak pernah takut lagi akan kesulitan saat membuka tali simpul karung itu. Sebab, saya percaya bahwa pabrik yang membuat kemasan karung beras itu telah memasang tali simpul sedemikian rupa sehingga tali itu akan sulit untuk dibuka; supaya isi karung tidak mudah bertumpah ruah. Namun pada saat yang sama, ada sebuah titik rahasia yang bisa digunakan untuk membuka ’keseluruhan’ tali simpul itu dengan teramat mudahnya. Tetapi, hanya orang yang tahu cara membukanya dengan benar sajalah yang dapat mengurainya dengan begitu mudah. Sehingga dia tidak akan mendapatkan kesulitan sama sekali saat membuka karungnya.
Untuk menjalani hidup, barangkali juga demikian; kita tidak perlu takut lagi akan kesulitan saat membuka simpul-simpulnya. Sebab, kita percaya bahwa Sang pencipta kehidupan itu telah memasang tali simpul sedemikian rupa sehingga tali itu akan sulit untuk dibuka. Tujuannya supaya makna kehidupan itu tidak mudah bertumpah ruah. Namun pada saat yang sama, ada sebuah titik rahasia yang bisa digunakan untuk membuka ’keseluruhan’ tali simpul itu dengan teramat mudahnya. Tetapi, hanya orang yang tahu cara menjalaninya dengan benar sajalah yang dapat mengurainya dengan begitu mudah. Sehingga dia tidak akan mendapatkan kesulitan sama sekali saat menjalani hidupnya.
Saatnya bagi kita untuk meninggalkan paradigma bahwa kemudahan akan datang setelah kesulitan. Karena jika demikian; berarti kita harus menjalani setiap episode sulit itu hingga habis terlebih dahulu sebelum mendapatkan kemudahan. Jika umur kita tidak cukup panjang, mungkin kita tidak akan pernah sampai pada kemudahan itu. Sehingga seluruh hidup kita dijalani dalam kesulitan. Sebaliknya, mari kita gunakan paradigma baru bahwa; kemudahan itu berada didalam kesulitan. Jadi, setiap kali kita menghadapi kesulitan, yakinlah bahwa kemudahan ada didalamnya. Sehingga, kita mempunyai kesempatan untuk menemukan simpul kemudahan didalamnya, agar bisa keluar dari kesulitan itu; sesegera mungkin. Lebih dari itu, kita bisa selalu berbaik sangka kepada Tuhan; atas segala hal yang telah Dia takdirkan.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Untuk alasan kepraktisan, sebenarnya saya lebih suka membeli beras dalam kemasan karung. Selain tidak perlu bolak-balik ke warung dua hari sekali, membeli beras karungan juga memberi saya bonus berupa karung yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Namun, ada satu hal yang sangat tidak saya sukai, yaitu sulit sekali membuka tali simpul yang mengikat karung itu. Kadang-kadang saya harus menggunakan garpu atau tusuk gigi sebagai alat pengait untuk mengurai simpulnya satu demi satu. Tak jarang saya menjadi sangat kesal, lalu menggunakan pisau untuk merobek bagian atas karung itu agar bisa mengeluarkan berasnya. Oleh karena itu saya lebih sering membeli beras dalam kemasan kantung plastik. Isinya sedikit, tapi gampang membukanya. Memang, ini hanya soal pilihan. Apakah saya akan memilih karungan atau plastikan. Kira-kira demikian.
Sama halnya dengan hidup kita. Ketika kita memutuskan untuk memilih tentu kita memiliki alasan yang membuat kita berpikir bahwa jalan hidup itulah yang paling kita inginkan. Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensi masing-masing. Dalam konteks ini berupa kesulitan dan kepedihan saat kita menjalaninya. Dalam banyak situasi, kita boleh memilih untuk mengerjakan hal-hal yang mudah; tetapi, biasanya hasilnya tidak terlampau berarti. Pekerjaan mudah yang kita lakukan itu tidak memberi dampak yang bermakna bagi perusahaan atau diri kita sendiri. Sebaliknya, jika kita memilih untuk melakukan sebuah project yang besar lagi rumit, mungkin hasilnya akan banyak. Namun, untuk menyelesaikannya kita harus bersedia menjalani lika-liku yang teramat sulit dan penuh rasa sakit.
Suatu ketika, saya kembali tergoda untuk membeli beras dalam karung. Disaat rasa putus asa hampir memenuhi ubun-ubun; secara tidak sengaja saya menarik ujung tali simpul dibagian lain dari pengikat karung itu. Ajaib sekali, ketika ujung tali itu ditarik; srrrrrrrrrreeeeeeet .....kesuluruhan tali simpul pengikat itu terlepas dengan begitu mudahnya! Sungguh, dengan cara itu hampir tidak ada tenaga yang terbuang. Dengan cara lama, saya harus sampai berkeringat dan menghabiskan waktu lebih dari lima belas menit untuk membuka simpul demi simpul yang ada. Tetapi, ketika ujung tali ajaib itu ditemukan, saya cukup menariknya nyaris tanpa tenaga, dan hanya butuh waktu kurang dari 3 detik untuk membuka karung itu. Lebih dari itu, karung berasnya pun utuh tidak kurang satu apapun.
Jika anda belum tahu tentang rahasia simpul karung beras ini; anda harus mencoba menemukan keajaibannya. Karena, simpul karung beras memberitahu kita sebuah rahasia yang selama ini sering kita ragukan, yaitu; ”Sesungguhnya, dalam setiap kesulitan, terdapat kemudahan.” Karung beras ini berhasil mengubah paradigma lama saya. Semula, saya mengira bahwa: kalau kita mau bersabar dalam kesulitan, maka ’diakhir’ perjalanan kita akan sampai kepada sebuah kemudahan. Sehingga, selama ini saya berfokus kepada usaha ’menguatkan diri’ untuk menempuh jalan sulit itu dengan sabar dan tabah, hingga saya bisa bertahan untuk tiba diakhir yang menyenangkan. Seperti memanjat gunung tinggi; jika kita bisa terus beranjak naik, kita akan sampai juga kepuncak tertinggi.
Sebaliknya, tali itu dengan gamblang menunjukkan bahwa kita tidak harus membuka satu demi satu simpul yang sulit itu terlebih dahulu untuk bisa membuka keseluruhan simpul karung. Justru, dia memperlihatkan bahwa ada cara yang sangat mudah yang tersembunyi dibalik setiap simpul yang sulit diurai itu. Tugas kita adalah untuk menemukan kemudahan itu tanpa harus mengurainya satu demi satu terlebih dahulu.
Barangkali, hidup juga memang demikian adanya. Itulah sebabnya, mengapa begitu banyak orang yang menderita dalam menjalani hidupnya. Seolah mereka berpindah dari satu kesulitan hidup, kepada kesulitan hidup yang lain. Namun, pada situasi yang sama; ada banyak orang yang bisa menjalaninya dengan begitu mudahnya. Seolah mereka selalu bisa menemukan jalan keluar dari setiap persoalan hidup yang menghadangnya. Ada apa ini sebenarnya? Barangkali, itu terjadi karena kita belum benar-benar memahami apa yang Tuhan isyaratkan dalam firmanNya; ”Sesungguhnya, dalam setiap kesulitan, terdapat kemudahan.” Andai saja kita bisa menemukan simpul rahasia untuk mengurai belitan-belitan kesulitan hidup itu; mungkin kita bisa menjalaninya dengan teramat sangat mudah. Tidak peduli sesulit apa situasinya.
Sekarang, setiap kali saya membeli beras dalam karung; saya tidak pernah takut lagi akan kesulitan saat membuka tali simpul karung itu. Sebab, saya percaya bahwa pabrik yang membuat kemasan karung beras itu telah memasang tali simpul sedemikian rupa sehingga tali itu akan sulit untuk dibuka; supaya isi karung tidak mudah bertumpah ruah. Namun pada saat yang sama, ada sebuah titik rahasia yang bisa digunakan untuk membuka ’keseluruhan’ tali simpul itu dengan teramat mudahnya. Tetapi, hanya orang yang tahu cara membukanya dengan benar sajalah yang dapat mengurainya dengan begitu mudah. Sehingga dia tidak akan mendapatkan kesulitan sama sekali saat membuka karungnya.
Untuk menjalani hidup, barangkali juga demikian; kita tidak perlu takut lagi akan kesulitan saat membuka simpul-simpulnya. Sebab, kita percaya bahwa Sang pencipta kehidupan itu telah memasang tali simpul sedemikian rupa sehingga tali itu akan sulit untuk dibuka. Tujuannya supaya makna kehidupan itu tidak mudah bertumpah ruah. Namun pada saat yang sama, ada sebuah titik rahasia yang bisa digunakan untuk membuka ’keseluruhan’ tali simpul itu dengan teramat mudahnya. Tetapi, hanya orang yang tahu cara menjalaninya dengan benar sajalah yang dapat mengurainya dengan begitu mudah. Sehingga dia tidak akan mendapatkan kesulitan sama sekali saat menjalani hidupnya.
Saatnya bagi kita untuk meninggalkan paradigma bahwa kemudahan akan datang setelah kesulitan. Karena jika demikian; berarti kita harus menjalani setiap episode sulit itu hingga habis terlebih dahulu sebelum mendapatkan kemudahan. Jika umur kita tidak cukup panjang, mungkin kita tidak akan pernah sampai pada kemudahan itu. Sehingga seluruh hidup kita dijalani dalam kesulitan. Sebaliknya, mari kita gunakan paradigma baru bahwa; kemudahan itu berada didalam kesulitan. Jadi, setiap kali kita menghadapi kesulitan, yakinlah bahwa kemudahan ada didalamnya. Sehingga, kita mempunyai kesempatan untuk menemukan simpul kemudahan didalamnya, agar bisa keluar dari kesulitan itu; sesegera mungkin. Lebih dari itu, kita bisa selalu berbaik sangka kepada Tuhan; atas segala hal yang telah Dia takdirkan.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Thursday, October 15, 2009
Melarikan diri Dari masalah
Entah sadar atau tidak orang sering melarikan diri dari masalah, karena masalah itu terlalu berat diatasi, atau terlalu menakutkan untuk dihadapi.
Berikut adalah beberapa kegiatan melarikan diri dari masalah, yang merasa bertobatlah.
1.main game mulu...
2.banyak tidur siang...
3.kebanyakkan nonton tv...
4.selalu jalan2 tanpa ada alasan yang jelas...
5.menghasut pacar untuk berduaan terus...
6.pake narkoba
7.terus-terusan makan
lari dari masalah hanya istilah..
kemanapun kita mencoba lari, masalah akan tetap ada dan terbawa di pikiran kita..
Melupakan sejenak masalah dengan cara2 diatas (Kecuali Pake narkoba) kadang bisa menjadi alternatif bwt ngeringanin beban pikiran kita.. tapi bukan berarti masalah bakal selesai begitu saja.. nah.. setelah pikiran kita lebih siap untuk mencari cara pemecahan dari masalah, biasanya kita akan lebih mudah mendapatkan jawaban terbaik dari masalah kita..
masalah, baik di undang atau enggak akan tetep datang sendiri..
jangan takut ma yang namanya masalah...
ngapain musti lari??
Pria sejati gak pernah lari dari masalah..
Pria sejati adalah mereka yang mampu menyelesaikan masalahnya dengan cerdik...
inget, jangan terlalu lama lari dari masalah..
umumnya, masalah kecil menjadi besar karena kita terlalu lama menunda2 untuk menyelesaikan masalah.
"Bukankah saat yang paling tepat untuk membunuh monster adalah ketika mereka masih kecil?"
Berikut adalah beberapa kegiatan melarikan diri dari masalah, yang merasa bertobatlah.
1.main game mulu...
2.banyak tidur siang...
3.kebanyakkan nonton tv...
4.selalu jalan2 tanpa ada alasan yang jelas...
5.menghasut pacar untuk berduaan terus...
6.pake narkoba
7.terus-terusan makan
lari dari masalah hanya istilah..
kemanapun kita mencoba lari, masalah akan tetap ada dan terbawa di pikiran kita..
Melupakan sejenak masalah dengan cara2 diatas (Kecuali Pake narkoba) kadang bisa menjadi alternatif bwt ngeringanin beban pikiran kita.. tapi bukan berarti masalah bakal selesai begitu saja.. nah.. setelah pikiran kita lebih siap untuk mencari cara pemecahan dari masalah, biasanya kita akan lebih mudah mendapatkan jawaban terbaik dari masalah kita..
masalah, baik di undang atau enggak akan tetep datang sendiri..
jangan takut ma yang namanya masalah...
ngapain musti lari??
Pria sejati gak pernah lari dari masalah..
Pria sejati adalah mereka yang mampu menyelesaikan masalahnya dengan cerdik...
inget, jangan terlalu lama lari dari masalah..
umumnya, masalah kecil menjadi besar karena kita terlalu lama menunda2 untuk menyelesaikan masalah.
"Bukankah saat yang paling tepat untuk membunuh monster adalah ketika mereka masih kecil?"
Sunday, October 11, 2009
Kapan Kita Boleh Menyerah?
”Habis gelap, terbitlah terang,” demikian Ibu Kartini memesankan. Setiap situasi sulit, pasti ada akhirnya. Masalahnya, kita sering tidak tahu kapan kesulitan itu akan berakhir sehingga tidak mudah untuk memutuskan apakah harus menyerah dan berhenti sampai disini saja, ataukah kita mesti bertahan ’sebentar’ lagi? Jika berhenti, boleh jadi kita kehilangan momentum karena bisa saja sebenarnya kita sudah berada pada ’detik-detik’ menjelang akhir itu. Tapi, kalau harus terus, sampai kapan?
Anda tentu tahu bahwa kemajuan teknologi memungkinkan kita menggunakan ban mobil tanpa ban dalam. Ban sejenis itu bernama ’Tubeless Tyre’. Namun, lidah ketimuran kita lebih mudah menyebutnya sebagai ban cubles, alias ban tanpa ban dalam. Kekaguman saya terhadap ban cubles seolah tidak pernah habis-habisnya. Pertama karena dia mengajari kita untuk mengubah paradigma. Semula, yang namanya ban, ya mutlak mesti ada ban dalam. Jadi, tanpa ban dalam, ban tidak bisa dipompa. Ban cubles mengenalkan kita kepada paradigma baru bahwa tanpa ban dalam pun ternyata kita bisa mendapatkan fungsi ban sebagaimana mestinya.
Jika hari ini kita bisa mengubah paradigma tentang ban yang ternyata tidak harus selalu memiliki ban dalam, mungkinkah kita juga mengubah paradigma kita tentang hidup? Misalnya, kita sering percaya bahwa untuk bisa berhasil kita mesti memiliki ’ini dan itu’. Tanpa semua ’ini dan itu’ itu, tidaklah mungkin kita berhasil. Jika hingga saat ini kita belum juga berhasil, barangkali bukan karena kita tidak memiliki ’ini dan itu’ itu. Sebab, ban cubles itu sudah menunjukkan bahwa tanpa ban dalam pun dia tidak kehilangan fungsinya sebagai ban. Boleh jadi, paradigma lama telah menjadikan pandangan kita agak gelap. Sehingga kita tidak melihat kemungkinan lain untuk berhasil, selain semua ’keharusan’ dan ’persyaratan’ yang kita buat sendiri itu.
Kekaguman saya berikutnya pada ban cubles adalah pada daya tahannya. Beberapa kali ban mobil saya terkena paku. Namun, ban cubles itu tidak pernah mengecewakan saya. Jika ban tradisional terkena paku, maka pada detik itu juga akan langsung gembos. Dia bisa meledak dengan bunyi yang sanggup menggetarkan jantung hingga nyaris copot. Bahkan, jika itu terjadi disaat kendaraan melaju kencang, bisa menyebabkan kecelakaan. Tapi, ban cubles tidak demikian. Seperti yang saya alami dimusim liburan tahun ini. Saya sedang berada diluar kota ketika mendapati ban mobil kami kempes. Karena kebanyakan orang sedang mudik, maka sebagian besar tambal ban pada tutup. Ketika ada satu yang masih buka, saya tidak bisa berharap banyak karena perlengkapan yang dimilikinya tidak memungkinkan untuk membongkar ban. Praktis yang bisa dilakukannya hanya menambah angin saja. Dengan ijin Tuhan, saya berhasil menyelesaikan perjalanan sekitar 200 kilometer dengan nyaman dan aman.
Keesokan harinya, saya membongkar ban itu. Benar saja, ada paku ulir yang tertancap disana. Saya kagum karena ban cubles itu tidak langsung meledak saat tertusuk paku. Saya lebih kagum lagi karena ada paku lain yang menancap dibagian lainnya. Bahkan terkena dua paku pun dia tidak mengeluh. Dan saya lebih kagum lagi karena ternyata ada satu paku lainnya lagi yang menghunjam kedalam ban itu. Saya tidak habis pikir, bagaimana ban itu bisa bertahan sedemikian kuatnya padahal kedalam tubuhnya ditancapkan tiga buah paku tajam.
Ketahanan semacam ini yang barangkali jarang dimiliki oleh manusia seperti kita. Kita sering terlalu cengeng untuk bisa memendam rasa pedih dan perih ini. Lalu memilih untuk berhenti daripada terus berlari seiring dengan perputaran roda kehidupan ini. Sedangkan ban cubless itu. Dia bertahan dalam nyeri itu sedemikian tenangnya sehingga dalam keadaan terluka oleh tiga buah pakupun tiada mengeluh. Dia tidak mejerit-jerit. Dia tidak beteriak-teriak, apalagi sampai meledak. Dengan tubuh penuh luka itu, dia tabah memikul beban dipundaknya, kemudian terus berlari mengimbangi gerakan roda-roda lainnya.
Mari sekali lagi kita bandingkan, apakah sikap kita lebih mirip ban tradisional yang langsung gembos ketika tertusuk paku kecil sekalipun. Lalu merengek mogok dan meminta berhenti. Atau, mungkin kita sudah memiliki ketangguhan. Katabahan. Dan ketahanan tingkat tinggi seperti yang dimiliki oleh ban cubles itu. Memang. Kita tidak pernah tahu kapan terang itu akan terbit. Seperti halnya kita tidak tahu, kapan tempaan ini akan berakhir dalam penyelesaian yang indah. Namun, jika kita memiliki sikap seperti ban cubles itu; setidak-tidaknya, kita tidak mudah dibuat menyerah. Ban cubles itu baru akan menyerah setelah tak ada lagi udara yang sanggup ditahannya didalam. Seolah dia berprinsip; ”sampai tetes udara penghabisan.” Seperti semboyan yang selalu dikatakan para pejuang sejati:”sampai titik darah penghabisan.” Sehingga, selama hayat masih dikandung badan, mereka tidak akan berhenti berjuang.
Andai saja kita bisa meniru ban cubles itu. Mungkin, kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang tangguh. Dengan sikap tidak mudah menyerah itu, kita mempunyai peluang untuk tiba diakhir gelap, agar bisa menikmati terang. Sebab, sehabis gelap, terbitlah terang. Karena dalam setiap kesulitan, selalu ada kemudahan. Mudah-mudahan.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Anda tentu tahu bahwa kemajuan teknologi memungkinkan kita menggunakan ban mobil tanpa ban dalam. Ban sejenis itu bernama ’Tubeless Tyre’. Namun, lidah ketimuran kita lebih mudah menyebutnya sebagai ban cubles, alias ban tanpa ban dalam. Kekaguman saya terhadap ban cubles seolah tidak pernah habis-habisnya. Pertama karena dia mengajari kita untuk mengubah paradigma. Semula, yang namanya ban, ya mutlak mesti ada ban dalam. Jadi, tanpa ban dalam, ban tidak bisa dipompa. Ban cubles mengenalkan kita kepada paradigma baru bahwa tanpa ban dalam pun ternyata kita bisa mendapatkan fungsi ban sebagaimana mestinya.
Jika hari ini kita bisa mengubah paradigma tentang ban yang ternyata tidak harus selalu memiliki ban dalam, mungkinkah kita juga mengubah paradigma kita tentang hidup? Misalnya, kita sering percaya bahwa untuk bisa berhasil kita mesti memiliki ’ini dan itu’. Tanpa semua ’ini dan itu’ itu, tidaklah mungkin kita berhasil. Jika hingga saat ini kita belum juga berhasil, barangkali bukan karena kita tidak memiliki ’ini dan itu’ itu. Sebab, ban cubles itu sudah menunjukkan bahwa tanpa ban dalam pun dia tidak kehilangan fungsinya sebagai ban. Boleh jadi, paradigma lama telah menjadikan pandangan kita agak gelap. Sehingga kita tidak melihat kemungkinan lain untuk berhasil, selain semua ’keharusan’ dan ’persyaratan’ yang kita buat sendiri itu.
Kekaguman saya berikutnya pada ban cubles adalah pada daya tahannya. Beberapa kali ban mobil saya terkena paku. Namun, ban cubles itu tidak pernah mengecewakan saya. Jika ban tradisional terkena paku, maka pada detik itu juga akan langsung gembos. Dia bisa meledak dengan bunyi yang sanggup menggetarkan jantung hingga nyaris copot. Bahkan, jika itu terjadi disaat kendaraan melaju kencang, bisa menyebabkan kecelakaan. Tapi, ban cubles tidak demikian. Seperti yang saya alami dimusim liburan tahun ini. Saya sedang berada diluar kota ketika mendapati ban mobil kami kempes. Karena kebanyakan orang sedang mudik, maka sebagian besar tambal ban pada tutup. Ketika ada satu yang masih buka, saya tidak bisa berharap banyak karena perlengkapan yang dimilikinya tidak memungkinkan untuk membongkar ban. Praktis yang bisa dilakukannya hanya menambah angin saja. Dengan ijin Tuhan, saya berhasil menyelesaikan perjalanan sekitar 200 kilometer dengan nyaman dan aman.
Keesokan harinya, saya membongkar ban itu. Benar saja, ada paku ulir yang tertancap disana. Saya kagum karena ban cubles itu tidak langsung meledak saat tertusuk paku. Saya lebih kagum lagi karena ada paku lain yang menancap dibagian lainnya. Bahkan terkena dua paku pun dia tidak mengeluh. Dan saya lebih kagum lagi karena ternyata ada satu paku lainnya lagi yang menghunjam kedalam ban itu. Saya tidak habis pikir, bagaimana ban itu bisa bertahan sedemikian kuatnya padahal kedalam tubuhnya ditancapkan tiga buah paku tajam.
Ketahanan semacam ini yang barangkali jarang dimiliki oleh manusia seperti kita. Kita sering terlalu cengeng untuk bisa memendam rasa pedih dan perih ini. Lalu memilih untuk berhenti daripada terus berlari seiring dengan perputaran roda kehidupan ini. Sedangkan ban cubless itu. Dia bertahan dalam nyeri itu sedemikian tenangnya sehingga dalam keadaan terluka oleh tiga buah pakupun tiada mengeluh. Dia tidak mejerit-jerit. Dia tidak beteriak-teriak, apalagi sampai meledak. Dengan tubuh penuh luka itu, dia tabah memikul beban dipundaknya, kemudian terus berlari mengimbangi gerakan roda-roda lainnya.
Mari sekali lagi kita bandingkan, apakah sikap kita lebih mirip ban tradisional yang langsung gembos ketika tertusuk paku kecil sekalipun. Lalu merengek mogok dan meminta berhenti. Atau, mungkin kita sudah memiliki ketangguhan. Katabahan. Dan ketahanan tingkat tinggi seperti yang dimiliki oleh ban cubles itu. Memang. Kita tidak pernah tahu kapan terang itu akan terbit. Seperti halnya kita tidak tahu, kapan tempaan ini akan berakhir dalam penyelesaian yang indah. Namun, jika kita memiliki sikap seperti ban cubles itu; setidak-tidaknya, kita tidak mudah dibuat menyerah. Ban cubles itu baru akan menyerah setelah tak ada lagi udara yang sanggup ditahannya didalam. Seolah dia berprinsip; ”sampai tetes udara penghabisan.” Seperti semboyan yang selalu dikatakan para pejuang sejati:”sampai titik darah penghabisan.” Sehingga, selama hayat masih dikandung badan, mereka tidak akan berhenti berjuang.
Andai saja kita bisa meniru ban cubles itu. Mungkin, kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang tangguh. Dengan sikap tidak mudah menyerah itu, kita mempunyai peluang untuk tiba diakhir gelap, agar bisa menikmati terang. Sebab, sehabis gelap, terbitlah terang. Karena dalam setiap kesulitan, selalu ada kemudahan. Mudah-mudahan.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Subscribe to:
Posts (Atom)
